Jakarta –
Read More : Kelompok PNS Ini Tak Dapat THR dan Gaji Ke-13 Tahun 2025
Layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk akan segera memasuki pasar ritel Indonesia. Bagaimana nasib Satelit Republik Indonesia (Satria 1) yang sudah beroperasi?
Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Alieh Setiadi (Menkominfo) mengatakan Starlink dan Satria 1 dijamin tidak akan saling tumpang tindih atau terputus.
“Oh tidak: Staria-1 adalah satelit GEO dan Starlink adalah LEO. Itu tidak benar,” kata Budi saat ditemui awak media di Hotel Pullman Jakarta, Selasa (23 April 2024).
Satria-1 merupakan satelit Geosynchronous Earth Orbit (GEO) yang terletak 36.000 km di atas permukaan bumi. Starlink, sebaliknya, bahkan berada lebih rendah lagi di Low Earth Orbit (LEO), hanya 500 km hingga 1.200 km dari permukaan bumi.
Menurut Budi, kehadiran Starlink di Indonesia tidak akan mematikan Satria-1.
“Iya dan tidak. Kebutuhan berbeda. Satria-1 bersifat GEO dan bahkan tidak bersaing langsung dengan Starlink. Begitulah keadaan saat ini,” tegas Budi.
Pasalnya, satelit Satria 1 merupakan satelit pemerintah yang ditugaskan langsung oleh Presiden Joko Widodo dan sudah mulai beroperasi. Pesawat luar angkasa ini berkapasitas 150 Gbps, menawarkan 37.000 unit dan menyediakan kecepatan internet 3 hingga 5 Mbps.
Pemerintah mengandalkan Satria-1 untuk menyediakan akses Internet untuk layanan pemerintah seperti pendidikan, layanan kesehatan, pemerintahan daerah, dan kebutuhan keamanan perbatasan.
Sementara Elon Musk berencana menambah kepemilikan Starlink di Indonesia. Selama ini perseroan hanya melayani pelanggan korporasi, namun berencana melebarkan sayap ke pasar ritel di masa depan.
Kominfo mengatakan Starlink mematuhi izinnya sebagai penyedia layanan Very Small Aperture Terminal (VSAT) dan Internet Service Provider (ISP). Sebelum resmi menjual Internet ke publik, Starlink harus melalui tahap Uji Kualifikasi Operasional (ULO) terlebih dahulu. Tonton “Layanan Internet Satelit Starlink Milik Elon Musk Resmi Masuk RI” (agt/fay)