Jakarta –
Read More : Cerita di Balik Keputusan Patricia Gouw Melahirkan di Bangkok
Soimah dan Herwan Prandoko atau rumah tangga Koko telah beroperasi selama 22 tahun. Sepanjang karir seninya, Koko selalu dianggap sebagai pendamping dan bertindak sebagai manajer Soimah.
Pemilik nama lengkap Soimah Pancawati ini mengaku tak akan bisa menjadi artis tanpa Koko. Soimah mendapat restu Koko untuk melanjutkan karirnya di Jakarta.
“Mungkin kalau bukan karena suamiku, aku tidak akan bisa menjadi artis. Saat itulah aku ingin ke Jakarta dulu untuk meminta restu mertuaku, baguslah karena anak-anak masih muda saat itu,” kata Soimah, Rabu (18/12/2024) di Studio Pagi Pagi Ambyar, Trans TV.
Soimah meminta izin kepada mertuanya karena orang tuanya sedang pergi. Setelah mendapat persetujuan mertuanya, Soimah kembali berkeinginan untuk berimigrasi ke Jakarta untuk bekerja bersama suaminya.
Ibu dua anak ini paham, tak mudah bagi Kok meninggalkan pekerjaannya di Yogyakarta dan menjadi seorang suami yang dicap selalu mengikuti istrinya. Meski begitu, Soimah tetap ingin Koko menemaninya bekerja di Jakarta.
“Saya tidak ingin pergi sendirian. Saya ingin pergi bersama suami saya. Sepertinya suami saya meninggalkan pekerjaannya di desa seolah-olah ingin menemui istrinya, itu tidak baik. Saat pertama kali saya mulai di Jakarta, ada suara-suara seperti itu.
Soimah punya alasan mengapa dia ingin suaminya menemaninya bekerja di Jakarta.
“Kalau saya ke Jakarta sendirian dengan kehidupan seperti ini, saya tidak akan iri. Saya akan bekerja kemana pikiran saya akan pergi,” kata Soimah.
“Saya merasa aman ketika bersamanya dan pada saat yang sama dia bertanggung jawab sebagai pemimpin saya. Saya tidak membiarkan diri saya dikontrol, suami saya yang bisa mengontrol saya,” ujarnya.
Soimah bahkan memutuskan untuk tidak menerima pekerjaan tersebut kecuali suaminya bisa menemaninya langsung. “Kalau tidak punya (suami, tidak bisa menemani), lebih baik tidak. Saya tidak ambil pekerjaan itu,” kata Soimah. Tonton video “Soimah kecewa petugas pajak memperlakukannya seperti koruptor” (pus/dar)