Jakarta –
Read More : Hore! Gaji ke-13 PNS Cair Mulai 3 Juni
Istilah Trumpflation kembali dibicarakan menjelang pemilihan presiden (Pilpress) Amerika Serikat (AS) tahun 2024, yang merupakan bentuk kekhawatiran terhadap arah kebijakan Trump yang jika terpilih dapat meningkatkan inflasi di Amerika Serikat. .
Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia?
Bhima Uddhisthira, Direktur Eksekutif Center for Economic and Legal Studies (CELIOS), memperkirakan inflasi Trump setidaknya menimbulkan 5 ancaman bagi Indonesia. Kebijakan proteksionis Amerika terhadap produk asal Tiongkok menghambat kinerja ekspor Indonesia.
Selain itu, ekspor Indonesia ke Tiongkok pada Januari-Juni 2024 menyumbang 23% dari ekspor migas senilai $29,9 miliar. Ekspor bahan baku industri ke Tiongkok dan AS, kata Bhima saat dihubungi deticcom. , Sabtu (27/7/2024).
Kedua, ada risiko kenaikan suku bunga yang lebih lama dari bank sentral AS, yang berarti kenaikan suku bunga lebih lama akan mengurangi inflasi Trump. Akibatnya, suku bunga tinggi di mana-mana. Menurut dia, hal ini sangat menyulitkan konsumen dan dunia usaha karena berdampak pada suku bunga kredit dalam negeri.
Ketiga, adanya ancaman terhadap industri manufaktur terkait ekosistem mobil listrik. Bahkan, kata dia, Indonesia berharap undang-undang anti inflasi era Biden akan mendukung pengiriman nikel dengan harga premium ke Amerika Serikat. Jika Trump menang, ekspektasi ini harus diperbaiki.
Keempat, pencarian investor terhadap aset-aset safe-haven seperti emas dan dolar AS menyebabkan nilai tukar rupee melemah. Tentu saja barang impor di Indonesia menjadi lebih mahal akibat inflasi atau melemahnya nilai tukar rupiah.
“Mengingat arah kebijakan Trump yang agresif berupa pemotongan pajak, memperlambat transisi ke kendaraan listrik, dan gelombang proteksionisme terhadap produk Tiongkok, kemungkinan Trumpflasi tinggi. Jika kita mencermati masa kepresidenan Trump terakhir, banyak janji kampanyenya yang langsung diimplementasikan pada hari pertamanya di kantor.” Peluang bagi Indonesia, ujarnya
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Economic and Financial Development (INDEF) Esther Sri Astuti menilai Indonesia harus memanfaatkan situasi ini. Namun dalam hal ini produk Indonesia harus berdaya saing.
Artinya membuat produk yang bisa menggantikan produk China dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah, sehingga produk China tidak masuk ke Amerika, sehingga produk Indonesia bisa masuk ke Amerika, kata Esther dalam keterangan terpisah.
Jika Trump terpilih kembali, kemungkinan besar terjadi Trumpflasi, katanya. Hal ini tercermin pada masa kepemimpinan Trump pada tahun 2017-2021 di AS, dimana terjadi perang dagang antara AS dan Tiongkok. Saat itu produk China ditindas, namun yang menggantikannya adalah produk Vietnam.
Tapi yang menggantikan produk Vietnam. Produk China masuk ke Vietnam dan ekspor dari Vietnam ke Amerika karena Vietnam punya perjanjian dagang dengan Amerika, ujarnya.
“Jika Trump terpilih kembali, saya kira hal yang sama akan terjadi mengingat defisit perdagangan AS dengan China,” tutupnya. (schc/fdl)