Jakarta –
Read More : Ranty Maria dan Rayn Wijaya Santai Siapkan Pernikahan
Surya Sahethapy Bengga mengatakan ayahnya, ke arah Ray Sahetapy. Ray Sahethapy selalu mendukung dan memperjuangkan hak -hak tunarungu.
Sejak usia muda, GCCCA, GCCCA, selalu menjadi kecacatan Ray Sahetapia dan Dewi Yull tidak takut untuk berkomunikasi dengan orang lain.
‘Orang tua bangga dan menawarkan kepada kami (tentang) orang macam apa yang ada.
Pria yang bekerja sebagai guru Amerika juga mengungkapkan orang tuanya, terutama Ray Sahethapy, selalu pada kepercayaan yang sama padanya.
“Mereka harus mengatakan bahwa ayah dan ibu harus bangga, karena mereka tidak tahu negara bagian Indonesia di antara para penyandang cacat.
Dia mengatakan Ray Sahethapy merasa sedih ketika dia meremehkan tuli. Namun, itu sebenarnya telah menjadi dorongan untuk membuktikan bahwa tuli dapat dilakukan.
“Jika saya melewati bahasa isyarat melalui seni Gisca. Jadi tuli bisa sangat penting,” kata Surya Sahetapias.
Tuli dalam komunikasi untuk meningkatkan kesadaran warga, sebagai tujuh pendidikan Ray Sahetapia.
“Gagasan dan komunitas bermain 7 teater memahami komunikasi dengan orang -orang merah,” ia selesai. Kehilangan Komunitas Teater Mantui Ray Sahethapy
Komunitas Teater Mantuui juga menyatakan kesedihan dan mengingat hal -hal manis tentang Ray Sahethapy.
“Terima kasih untuk Ray, anak -anak bisa membuat mimpi dan bukan tanpa tujuh teater. Tidak akan selalu begitu.
Ray Sahethapy adalah pencipta tujuh teater. Banyak anggota memasuki komunitas Mantui.
“Juga keluarga Om Ray, yang juga meratapi sosok yang kami bantu,” kata Teater Mantuui bahwa kisah Instagram -nya, putra Ray Sahetapi, Merdasti Octavia, sedang memuat ulang.
Komunitas Teater Mantui berjanji akan menjadi keturunan Ray Sahetapy. Anak -anak akan membantu kreatif tuli.
“Untuk menciptakan Ray Seven Theatre Theatre, yang merupakan keturunan Ray, yang terus mewarisi cita -cita anak -anak, dengan banyak orang yang mengilhami kami, seperti yang kami terinspirasi.” Tonton Video “Video: Ray Sahetapy untuk dimakamkan di Sulawesi” (AHS / PUS)