Jakarta –
Read More : Jepang ‘Diamuk’ Panas Ekstrem, 6 Ribu Warga Masuk RS gegara Heatstroke
Seorang remaja di kota Xinzhou, Tiongkok utara, meninggal setelah mendonorkan plasma darahnya sebanyak 16 kali selama 8 bulan. Meninggalnya pemuda berusia 19 tahun tersebut menimbulkan kesedihan yang luar biasa di masyarakat.
Menurut South China Morning Post, Zhao Wei (19) meninggal mendadak di rumahnya tak lama setelah kembali bekerja pada 15 Januari. Keesokan harinya, ayah Zhao Zhinyie menemukan tanda terima yang menunjukkan bahwa anak tersebut secara rutin mendonorkan plasma darahnya antara Mei dan Desember tahun lalu.
Faktur yang ditemukan oleh ayahnya menunjukkan bahwa Zhao mendonorkan plasma darah sebanyak 16 kali dalam 8 bulan sebelum dia meninggal, dan interval terpendek antar donasi hanya 12 hari. Ia juga mendonorkan plasmanya tiga kali sebulan.
Di Tiongkok, donor darah hanya dapat dilakukan setiap tiga bulan, namun menurut peraturan Komisi Kesehatan Nasional tahun 2021, donor plasma dapat dilakukan setiap 14 hari, dan Zhou Wei menerima $36, atau sekitar 100 rupee. . 580 ribu per donatur.
Laporan medisnya tertanggal 5 Januari juga mengungkapkan bahwa ia didiagnosis menderita jantung berdebar, anemia berat, dan kelainan darah.
Pada hari kematiannya, Zhao Junior memberi tahu temannya di WeChat bahwa dia merasa sakit dan terlalu lemah untuk melakukan apa pun.
Temannya berkata, “Karena tubuhmu sudah mencapai batasnya. Berhentilah mendonor darah. Kamu perlu makan dengan baik dan pulih sepenuhnya tanpa memikirkan hal lain.”
Ayah Zhou Wei kini menuntut penegak hukum mengambil tindakan terhadap lembaga yang mengumpulkan plasma tersebut.
“Mereka mendorong generasi muda untuk terus ‘menjual darah’, yang mengakibatkan anak saya terus mendonor darah dalam jangka panjang,” kata sang ayah. Tonton video “Stok Darah Tipe O di Singapura Sangat Penting” (kna/kna)