Jakarta –

Read More : Viral Wanita Idap Kanker Laring, Sempat Dikira Radang-Berujung Operasi Pita Suara

Dr. Oka Negara yang terkenal dengan komitmennya terhadap kesehatan seksual menekankan bahwa paparan liter bisphenol A (BPA) dapat digunakan kembali, terutama saat bayi masih di permukaan dan dapat menyebabkan kelainan pada alat reproduksi pria. Termasuk mikropenis, suatu kondisi di mana ukuran penis lebih besar dari biasanya.

Dokter yang saat ini bekerja di Organisasi Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di Bali juga mengungkapkan bahwa pendistribusian sampah sering dilakukan menggunakan truk terbuka, artinya paparan langsung terhadap panas ekstrem, terutama energi matahari.

Paparan tersebut dapat menyebabkan terlepasnya Bisphenol A (BPA) dari dinding galon ke dalam air yang dikandungnya. Prosedur pencucian galon yang berulang juga meningkatkan risiko ini.

“Galon-galon ini yang jadi kendala saat akan dikirim atau didistribusikan, mulai dari kekosongan yang perlu diisi atau ada yang sudah diisi (dikirim) ke distributor. Saya sudah melihat beberapa data yang menunjukkan bahwa itu adalah galon. tidak panas saat pengantaran terkena “terbakar karena ditaruh di truk terbuka”, Ke Made Oka Negara dikutip dalam keterangan tertulis, Kamis (12/9/2024).

Dr. Oka menjadi pembicara di Fakultas Kedokteran Udayana di sela-sela seminar ‘Bebas BPA’ bertema ‘Perilaku Baik, Kesehatan Reproduksi Sehat, Keluarga Sukses’ di Amarossa Cosmo Hotel Jakarta (5/9).

Dijelaskannya, paparan panas dan radiasi akan menyebabkan keluarnya BPA, sehingga ia menyarankan pengiriman mobil Galon dengan truk rooftop.

“Dari segi komposisi kimia BPA, beberapa penelitian besar menunjukkan bahwa BPA sangat berbahaya bagi kesehatan,” ujarnya.

“Jika (BPA) digunakan secara teratur (dapat menyebabkan) kelainan estrogen dan pada laki-laki ada kemungkinan terkena mikropenis, yaitu kemungkinan sulit mempunyai anak. Pada wanita cenderung mengalami masalah pada seks dulu, dada dan panggul. lebih besar,” lanjutnya.

Kontaminasi BPA pada air kemasan polikarbonat telah dibuktikan melalui penelitian lapangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang menunjukkan bahwa air minum kemasan yang terbuat dari botol polikarbonat di enam wilayah Indonesia menunjukkan tingkat kontaminasi BPA yang signifikan.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan kadar BPA pada air minum kemasan melebihi batas aman sehingga mendorong berkembangnya peraturan BPOM. Oleh karena itu, dalam pertemuan yang sama Yeni Restiani, Direktur Standar Pengolahan Pangan BPOM, kembali menegaskan pentingnya undang-undang pelabelan dan pengemasan yang harus diperhatikan oleh keluarga plastik dan masyarakat Indonesia.

“Mulai 5 April 2024, seluruh AMDK yang beroperasi di Indonesia harus mematuhi ketentuan BPOM Nomor 6 Tahun 2024,” kata Yeni.

Yeni menyoroti dua poin penting dalam Perubahan Kedua Peraturan BPOM No. “Dalam kondisi tertentu, kemasan polikarbonat dapat melepaskan BPA dari AMDK”.

Menurutnya, proses migrasi atau perpindahan BPA dari kemasan ke makanan bisa terjadi karena banyak hal. Penyebabnya, menurut Yeni, cara mencuci yang tidak tepat, penggunaan air dengan suhu di atas 75 derajat Celcius, sisa sabun, pembersihan yang menimbulkan goresan, penyimpanan tidak boleh terkena sinar matahari, atau paparan sinar matahari terlalu lama.

Peraturan kemasan polikarbonat AMDK kini resmi berlaku dengan jangka waktu empat tahun bagi produsen untuk memperbaruinya. Urgensi label ini didasarkan pada penelitian lokal yang menemukan kandungan BPA pada air minum kemasan galon polikarbonat di enam wilayah Indonesia.

BPOM menemukan kadar BPA di atas batas (0,9 ppm per liter) pada air minum kemasan galon pada tahun 2021-2022. Padahal kadar yang ditentukan adalah 0,6 bagian per juta (ppm) per liter. Enam wilayah yang diduga liter AMDK terkontaminasi paparan BPA antara lain Medan, Bandung, Jakarta, Manado, Banda Aceh, dan Aceh Tenggara.

Berdasarkan temuan BPOM, kadar BPA yang tinggi sebesar 3,4 persen ditemukan di wilayah peredaran dan distribusi. Sementara itu, hasil uji migrasi BPA yang mengkhawatirkan sebesar 0,05-0,6 ppm menunjukkan bahwa 46,97 persen ditemukan di area distribusi dan distribusi, dan 30,19 persen ditemukan di area produksi. Sedangkan pada pengujian kandungan BPA dalam AMDK melebihi 0,01 ppm, ditemukan di sentra produksi sebesar 5 persen dan di sentra distribusi dan distribusi sebesar 8,6 persen.

“Jadi, mari kita lihat apakah (semua bukti ini) dianggap bagus?” Kata Dr. Jaga negara.

Atau kita ingin melihat generasi penerus sebagai generasi yang sehat, ujarnya.

(akan / makan)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *