Jakarta –
Read More : Anak Irfan Hakim Tak Sangka Raih Emas PON Usai Pulih dari Trauma Jatuh Berkuda
Pesulat Pak Tarno menceritakan pengalaman pahitnya ketika ia gagal menciptakan Musala dan membeli ladang beras. Ini karena dia menjadi korban tuduhan.
Jelas, kegagalan masih dicetak dan menjadi perhatian para peserta yang populer melalui kegiatan pencarian.
“Sebenarnya, jika kamu tidak tertipu, ingin membuat Musala. Eh, ditipu ketika aku ingin membuat Musala. Kamu tertipu. Aku ingin membeli negara. Kamu ingin membuat Muhmal.” bertemu di Studio Transvio, Tendean, Jakarta Selatan., Jumat (31/1/2015)
Setelah insiden itu, Tnno mulai lebih berhati -hati ketika mengelola dana. Sekarang dia hanya mempercayai bisnis keuangan untuk keluarganya sendiri.
“Ya, lebih hati -hati. Tidak mudah untuk mempercayai orang. Jadi, sekarang, tangkap keluarga,” kata Tarno.
Meskipun ia mengalami peristiwa yang tidak diinginkan dan sekarang harus melakukan aktivitas kursi roda setiap hari setelah diserang oleh stroke. Tetapi antusiasme Pak Tarno untuk menghibur orang -orang masih berada di level tinggi. Baginya, melihat penonton tertawa sebagai sumber kebahagiaan dan energi.
“Jika pekerjaannya senang melihat orang -orang tertawa bahagia, penonton tertawa, energi bagi saya untuk melihat orang yang bahagia. Saya ingin mendorong saya. Saya merindukan penonton,” kata Tarno.
Rekonsiliasi yang berusia 74 tahun ingat bahwa ia memiliki titik tertinggi ketika muncul di depan ribuan pemirsa yang tertawa sebelum ia memulai sihirnya.
“Di masa lalu, salah satu pudar sangat penuh. Penonton tertawa. Semua orang senang. Aku tidak memulai. Aku tidak bermain sihir. Aku tertawa. Aku senang. Penonton tertawa. Aku senang.” Dia ingat menonton video itu. “