Jakarta-

Read More : Yogi Gamblez yang Ditangkap Bareng Epy Kusnandar Bukan Pemain Preman Pensiun

Beberapa pendukung Presiden dan Wakil Presiden terpilih Prabowo Subianto serta Gibran Rakabuming Raka menjadi komisaris BUMN. Mereka antara lain Fauzi Baadilla sebagai komisaris PT Pos Indonesia (Persero), Burhanuddin Abdullah sebagai komisaris utama PT PLN (Persero), dan Andi Arief sebagai komisaris PLN.

Berbicara soal pendukung Prabowo-Gibran yang menjadi komisaris BUMN, staf khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga memberikan beberapa penjelasan. Pertama, BUMN adalah milik pemerintah.

Sementara itu, kata dia, hanya pemerintahan masa depan yang “tidak akan bubar” atau akan berlanjut.

Ini yang namanya kesinambungan. Pertama kali lho, ketika Bung Karno dan Pak Harto benar-benar bubar. Dari Pak Harto ke Habibie ada reformasi. Habibie dan Gus Dur juga bubar. Gus Dur dan Megawati juga bubar. . . Dari Megawati hingga SBY juga putus. “Juga dari SBY hingga Pak Jokowi putus,” ujarnya di Pos Blok Jakarta, kemarin.

“Baru kali ini berkelanjutan. Jadi wajar kalau semua yang terkait dengan pemerintah mengalami transisi yang bagus lho. Lancar, berkelanjutan,” lanjutnya.

Kedua, kata dia, pemerintah punya arah politik. Ini juga mencakup perusahaan milik pemerintah.

Jadi wajar saja jika pemerintah ikut campur dalam hal yang namanya BUMN, ujarnya.

Ketiga, nama BUMN juga tidak lepas dari politik. Dia menjelaskan, DPR harus melaporkan berbagai kebijakan terkait BUMN. Misalnya soal merger BUMN.

“Kalau BUMN mau merger. Lapor ke mana? Ke DPR. Kalau swasta lapor ke DPR? Enggak. Mau bikin holding mau ke mana? Di DPR. Kalau mau IPO, dimana?

Saksikan juga video ‘Sarmuji bercanda dengan Tommy Kurniawan saat Rapat Komisi VI: Calon Menteri’:

(acd/hons)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *