Wavoni –

Read More : Turnamen Esports Nasional 2025 Hadirkan Hadiah Rp1 Miliar – Gamer Antusias Daftar

Pulau Wawoni, Kabupaten Konawe Kepulauan, merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam. Kopra merupakan salah satu komoditas unggulan yang menyokong masyarakat lokal.

Bagi petani, kopra bukan hanya sekedar sumber penghidupan, namun juga bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Salah satu petani kopra di Desa Watuondo, Wawoni Timur, Ivan berbagi cerita tentang bagaimana ia menjadi seorang petani, hal yang dijalaninya sejak ia berusia 17 tahun.

“Saya mulai menanam kopra karena tidak ada sumber penghasilan lain,” kata Ivan kepada detikcom, baru-baru ini.

Kopra telah menjadi andalan perekonomian masyarakat Wavoni selama bertahun-tahun. Kopra ini biasanya diolah menjadi minyak nabati kelapa asli, termasuk bahan baku minyaknya. Menurut Ivan, lahan yang digarapnya lebih dari satu hektare sudah ada sejak ratusan tahun lalu sejak zaman nenek moyangnya.

“Ini adalah tanah ayah mertuaku. Ada lebih dari 100 (pohon). .

Proses panjang pembuatan kopra

Lebih lanjut Ivan menjelaskan proses produksi kopra yang diawali dengan penanaman pohon kelapa. Pohon-pohon ini membutuhkan waktu hingga tujuh tahun untuk mulai berbuah. Setelah itu, pemanenan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan sekali.

“Panennya tergantung pohonnya. Kalau ada tiga puluh pohon, mungkin ada 1000 bibit. Dan prosesnya menjadi kopra, kalau dapat 1.000 bibit, hanya butuh waktu seminggu,” ujarnya.

Berkat kepiawaiannya memanjat, Ivan mampu mengumpulkan hingga 30 pohon hanya dalam waktu 2 hari. Setelah dipanen, kelapa tua dibersihkan dan dibelah menjadi dua bagian. Setelah itu kelapa dijemur di rak kawat hingga benar-benar kering. Proses ini membutuhkan ketelitian, terutama untuk memastikan kelapa benar-benar kering sebelum dipotong dan diambil ampasnya. Daging kelapa kemudian dipotong segitiga kecil dan dimasukkan ke dalam kantong.

“Kalau belum kering, pisahkan lagi, panggang lagi. Setelah digoreng lagi agar semuanya kering, lalu dipotong-potong,” jelasnya.

Internet mempercepat proses penjualan

Jika semuanya sudah siap, petani tinggal mencari pembeli yang cocok, yang kini semakin mudah berkat perkembangan teknologi. Kehadiran Internet membawa perubahan besar bagi petani kopra di Wawoni. Dulu, setelah produksi kopra terhenti, petani harus berhadapan dengan nakhoda kapal kayu yang akan membawa hasil panen ke Kendari. Proses ini dapat memakan waktu beberapa minggu hingga hasil penjualan diterima.

“Nah, sekarang ada cara jualan cepat lewat online. Sekali jadi kopra, langsung ditimbang, langsung dapat. Tidak seperti dulu. Sekarang n harus telpon pembelinya. Mereka bilang, oke, diskusi saja” itu waktu atau hari. Kalau selesai pagi, ya harus datang sore. Selain itu, jika kita membutuhkannya sekarang, mereka akan datang dengan cepat. “- jelas Ivan.

Dalam sekali panen, petani ini mampu menghasilkan kopra sebanyak 500 kilogram dengan harga sekitar 10-12 ribu rupiah per kilogram. Sebab, sekali panen bisa menghasilkan omzet hingga Rp 5 juta.

“Kami bisa mendapat Rp 15 hingga 20 juta setahun, tergantung buahnya. Saat musim hujan kita bisa mendapatkannya. Saat musim kemarau, buah-buahan cukup langka,” ujarnya.

Meskipun usahatani kelapa dan produksi kopra tidak bersifat padat modal, namun keduanya mempunyai tantangan tersendiri. Cuaca ekstrim seperti angin kencang atau petir dapat merusak pohon kelapa.

FYI, Konawe Kepulauan menjadi salah satu wilayah yang saat ini merasakan manfaat langsung dari proyek Palapa Ring. Kehadiran titik koneksi internet di Wawoni ini menjadi angin segar bagi masyarakat setempat.

Selain Palapa Circle Network Control Point (NOC), di Kepulauan Konawa terdapat 119 hotspot internet yang tersebar di sekolah, kantor desa, tempat ibadah bahkan objek wisata Pantai Campa. BAKTI Komdigi juga telah membangun 35 tower BTS yang tersebar di seluruh wilayah.

Detikcom bersama BAKTI Kementerian Komunikasi dan Teknologi Digital (Komdigi) melaksanakan program Tapal Perbatasan untuk menganalisis pembangunan ekonomi, pariwisata, infrastruktur, dan pemerataan akses Internet di zona 3T (tertinggal, perbatasan, dan terpencil). Ikuti terus berita informatif, inspiratif, unik dan menarik seputar program Tapal Batas di Tapalbatas.detik.com! Saksikan video “Setelah Anambas, Detikcom Frontiers kini jelajahi Kepulauan Konawe” (anl/ega)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *