Jakarta –
Read More : 91% Turis Indonesia OTW Luar Negeri, Jepang-Korsel Jadi Pilihan
Di pasar Pecinan Semarang, ada satu profesi yang masih bertahan, yaitu Mbok Gendhong. Bahkan, puluhan Mbok Gendhong siap membantu pelanggan.
Tak hanya membantu dalam pengangkutan makanan, Mbok Gendhong juga bisa menjadi pemandu terbaik konsumen dalam mencari kebutuhannya. Tidak ada salahnya karena pasar adalah tempat keseharian Mbok Gendkhon.
Mbok Gendhong adalah nama pedagang jasa yang membawakan makanan kepada pelanggan di pasar tradisional, khususnya Pasar Gang Baru di kawasan Pecinan Semarang. Mbok Gendhong tidak hanya pandai berbelanja tetapi juga pandai memilih buah atau sayur untuk istrinya.
Karya tersebut dinamakan Mbok Gendhong karena yang melakukannya biasanya adalah ibu-ibu yang membawa pot bambu di punggungnya. Berbeda dengan kuli angkut yang biasanya menunggu diturunkan, Mbok Gendhong khusus menemani pengunjung pasar berbelanja.
Sugimarti (64) rela berangkat setiap pagi dari rumahnya di Buyaran, Demak untuk menjadi Mbok Gendhon di Pasar Gang Baru. Dia melanjutkan pekerjaan ini sejak usia 20 tahun.
“Orang Buyaran di sini sekitar 50 orang,” ujarnya saat ditemui di Pasar Gang Baru, Kecamatan Semarang Tengah, Jumat (9/8/2024).
Hal itu pertama kali ia lakukan karena mengikuti ibunya yang menjadi Mbok Gendhon. Ibunya menjadi Mbok Gendhon karena merasa usahanya sebagai penjual sayur di pasar Johar tidak mencukupi.
“Dulu ibu saya berjualan sayur di Johar, tapi investasinya habis, makanya saya diajak ke Mbok Gendhon. Sekarang ibu ini ada di rumah, sudah 3 tahun di rumah, karena sudah tua,” jelasnya.
Selama puluhan tahun menjabat Mbok Gendhong, Sugimarti tak pernah terpikir untuk berganti pekerjaan. Menurutnya, hasil menjadi Mbok Gendhon sangat bagus.
Itu tidak menetapkan biaya pembelian satu kali. Namun pengunjung biasanya membayar Rp 15-25.000 jika menggunakan jasa Mbok Gendhong.
WIB kerja sampai jam 12.00 sehari bisa bawa pulang Rp 50k sampai Rp 100k. Bahkan ada hari-hari istimewa dimana penghasilannya melebihi itu.
Beberapa Mbok Gendhong juga mempunyai pelanggan khusus. Seringkali pemilik restoran dimana pelanggannya harus bepergian dan membeli dalam jumlah banyak.
“Belum ada yang minta (gabung), tapi jarang sekali dua kali. Kalau begitu harus pulang dan bayar ongkos Rp 25.000,” ujarnya.
Besarnya penghasilan yang dinilai sangat baik membuat Warsiem (47) menyetujui gagasan menjadi Mbok Gendhong. Berasal dari Desa Karangmojo di Sukoharjo, ia bahkan rela mengeluarkan uang untuk menjadi Mbok Gendhon di Semarang.
Selama 10 tahun terakhir ia menjadi Mbok Gendhong. Pilihan itu diambil karena ia melihat tetangganya kerap membawa pulang uang dalam jumlah besar dari Semarang.
“Di Solo nggak ramai, di sini rame. Kalau di sini pembeli Tionghoa biasanya butuh Mbok Gendhong, tapi di Solo tidak,” ujarnya.
Setelah 10 tahun menjadi Mbok Gendkhan, ia mengaku membantu istrinya membangun rumah dan menikahkan kedua anaknya. Kini ia memilih tetap menjadi Mbok Gendhan karena tidak ingin membebani anak-anaknya.
“Anak-anak punya keluarga sendiri, istri buruh tani biasa.
____________________
Baca cerita lengkap Mbok Gendong di detikJateng “KPK selidiki Wali Kota Semarang Mbak Ita karena ambil alih Dinas Pendidikan” (wkn/wkn)