Jakarta –
Read More : Antam dan UBS Melambung Lagi! Cek Rincian Terbaru Harga Emas Pegadaian, Jumat 19 April 2024
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) menyebutkan Indonesia sedang melalui fase penurunan kontribusi industri terhadap perekonomian atau deindustrialisasi. Hal ini terlihat dari kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) yang hanya sebesar 20%.
Deputi Bidang Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Tami Satya Parmana mengatakan, dalam 10 tahun ke depan, perusahaan lokal akan melalui fase deindustrialisasi industri nasional sudah memasuki fase ini.
“Yang terjadi sekarang, saya kira 10 tahun ke depan dunia usaha kita akan mengalami deindustrialisasi. Padahal itu sudah terjadi, angka PDB industri kita saat ini di bawah 20%,” kata Tami di acara Jakarta International Investment, Trade Tourism , dan SME Expo (JITEX) 2024 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (07/08/2024).
Tammy menjelaskan dampak yang akan terjadi jika fase ini terus berlanjut yakni munculnya fenomena marginal hunter. Fenomena ini ditandai dengan beralihnya pelaku usaha yang menjadi distributor.
Tami menilai, alih-alih membangun pabrik atau berinvestasi, pelaku usaha memilih berburu produk impor yang harganya jauh lebih murah. Dampaknya, kesempatan kerja berkurang.
“Apa dampaknya kalau ini terus terjadi? Kesempatan kerja akan berkurang karena arus impor dan akan ada yang namanya pemburu keuntungan. Banyak badan usaha yang tidak mempunyai modal untuk berinvestasi, membangun industri baru, membangun pabrik baru. Mereka lebih cenderung membeli produk impor dengan harga lebih tinggi. “Lebih murah dan bisa langsung dapat penghasilan kalau dibiarkan,” jelasnya.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk mempertemukan para pelaku UMKM dalam satu brand, dalam hal ini Made In Jakarta. Langkah ini menciptakan jaminan kualitas produk UMKM.
Langkah ini juga bisa menjadikan Jakarta sebagai pusat mode global. Pasalnya, Jakarta dinilai sebagai salah satu kota yang berpotensi untuk berwirausaha.
“(Upaya ini) menjadikan Jakarta sebagai pusat fashion dunia. Kita ingin sektor ini tidak ketinggalan lagi, Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa, negara lain melihat kita sebagai pasar produk yang sangat potensial. dan perusahaan-perusahaan di dalam negeri tidak memanfaatkan peluang ini dengan melihat tren ini, tambahnya (Ilustrasi/Foto)