Jakarta –
Read More : Pendaki Ngonten Kencing di Tlogo Kuning Gunung Lawu Di-blacklist Gunung Jawa
Soal Raja Jawa itu disuarakan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dalam pidatonya di Musyawarah Nasional (Munas) XI Golkar. Katanya hati-hati dengan nomor itu.
Lantas, apa makna raja Jawa yang dihembuskan Bahlil kemarin saat Musyawarah Nasional Partai Golkar jika melihat sejarahnya?
Kolumnis sejarah Asep Kambali menafsirkan perkataan Bahlil. Menurutnya, perkataan tersebut hanyalah lelucon politik dan jika diartikan berarti seluruh presiden Indonesia berasal dari suku Jawa.
Jadi, raja Jawa yang dibicarakan Bahlil itu tidak benar atau tidak ada dalam kenyataan. Ini saya lihat sebagai lelucon politik atau lelucon politik,” kata Asep kepada detikcom, Kamis (22/08/2024).
“Jadi itu tidak benar. Itu hanya istilah, istilah ini kalau saya tafsirkan seperti itu, mengacu pada konteks sejarah negara kita, yang setiap pemimpin kita selalu orang Jawa,” imbuhnya.
Namun, kata dia, ada presiden yang tidak diakui dan bukan berasal dari Pulau Jawa. Jika Indonesia sekarang punya tujuh presiden, Asep menambahkan dua angka lagi.
“Jadi pemimpin kita orang Jawa, dan sebagian besar presiden Indonesia, mereka semua diakui. Padahal kita punya presiden yang tidak diakui,” tegasnya.
“Kalau saya bilang presiden Indonesia ada sembilan, maka yang diakui hanya tujuh. Sembilannya adalah Encik Assaat dan Safrudin Praviranegara. Jadi itu ada dalam sejarah, ya. Tapi kita hanya tahu tujuh,” kata Asep.
“Ketujuh orang itu orang Jawa. Sulawesi ada satu, tapi wakil presidennya yakni Yusuf Kalla. Sisanya orang Jawa semua,” ujarnya lagi.
Terakhir Asep menyatakan, raja Jawa tersebut merujuk pada pemimpin Indonesia sebelumnya. Sebab sampai saat ini presiden Indonesia adalah orang Jawa.
Jadi istilah ‘raja Jawa’ mengacu pada pemimpin kita sebelumnya, presiden kita yang berasal dari Jawa, termasuk Pak Jokowi hingga saat ini, ”ujarnya.
“Nah, dalam konteks konstelasi politik saat ini, saya juga melihatnya seperti itu, begitulah adanya. “Hati-hati dengan orang Jawa.” Bisa dikatakan, Prabowo juga orang Jawa,” jelasnya.
“Seperti ini. Jadi, “kita harus mendukung” maksudnya Bahlil, “kita harus melanjutkan, bukan main-main.” Ini interpretasi saya,” kata Asep.
Tonton video “Mega Ejek Sebutan Bahlil ‘Raja Jawa’ Hingga Istana Bereaksi” (msl/wsw)