Jakarta –

Read More : Batasi Konsumsi Makanan-Minuman Ini demi Cegah Kanker di Usia Muda

Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyelenggarakan pelatihan Ms tentang deteksi dini penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan penyakit menular seksual penyebab penyakit tersebut di Kampung Lio, Depok, Aso pada Rabu (25/9/2024). . Pengabdian masyarakat ini diikuti oleh empat mahasiswa asal luar negeri, Leticia Picolo Pissarra dari Brazil, Sae Hyun Chang (Korea Selatan), Lou Lambert (Prancis), dan Rayan Chettou (Maroko).

“Mereka dari Erasmus University Medical Center di Rotterdam, Belanda yang bekerja sama dengan FK-UI terkait Global Health Minor Program 2024. Kebetulan kami sedang membuat iklan di Desa Lio dan mereka meminta untuk datang dan melihat dunia,” ujar Dr Ibnu Agus Ariyanto, S.Si, M.Biomed yang memimpin acara tersebut dalam laporan tertulis yang diperoleh detikcom.

Sebagai referensi, Kementerian Kesehatan mencatat 190.561 kasus demam berdarah dan 1.141 kematian pada minggu ke-36 tahun 2024. Jumlah kematian akibat demam berdarah di Indonesia disebut-sebut menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang demam berdarah itu sendiri, terutama masa sulit pada tujuh hari pertama. Periode ini dibagi menjadi tiga bagian, yang disebut demam, parah, atau ketika demam mereda, barulah lega.

Berdasarkan data Puskesmas Kota Depok, menurut Ibnu Agus Ariyanto, jumlah orang yang dirawat di rumah sakit akibat demam berdarah cukup tinggi, disusul penyakit menular. Untuk itu, FK-UI memprioritaskan pemberian penyuluhan dan pelatihan kepada 80 warga Kampung Lio yang marah terhadap Jumantik.

Mereka diberikan informasi mengenai gejala umum penyakit demam berdarah seperti demam tinggi, nyeri sendi dan ruam kulit, cara efektif mencegah perkembangbiakan nyamuk dengan membersihkan tempat penampungan air, menggunakan kelambu dan menggunakan salep antinyamuk, serta pentingnya minum. penderita DBD ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Selain itu, Dr. Beti Ernawati, PhD berfokus pada penggunaan alat demam berdarah untuk deteksi dini sehingga pasien dapat mendapat pengobatan yang tepat dengan cepat dan mengurangi risiko komplikasi serius.

“Peran politik Jumantik sangat penting, sebagai pemimpin dalam pencegahan penyakit DBD di tanah air, mereka tidak hanya sekedar memberikan penyuluhan, namun memantau dan mendata kasus DBD di wilayahnya,” tegas Ibnu.

Anggota Jumantik yang sebagian besar adalah ibu-ibu tampak antusias mengikuti penyuluhan. Selain itu, korbannya tidak hanya mahasiswa FK-UI saja, namun juga empat mahasiswa dari negara lain. Usai upacara, para jumantik mencoba berfoto bersama mereka.

Leticia mengaku sangat terkejut melihat suasana hati Jumantik yang bahagia usai menerima lamaran tersebut. Mereka sengaja mengikuti program di Indonesia tanpa minat mempelajari kesehatan di Indonesia dengan terjun langsung ke bidang seperti ini.

“Juga karena Indonesia punya banyak makanan enak dan masyarakatnya ramah,” tambah Leticia yang dibawakan oleh Sae Hyun, Lou dan Rayan Saksikan video “Video: Suntikan DBD Masih Belajar Masuk Sistem Nasional” (kna/kna )

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *