Jakarta –
Read More : Marcus Rashford Kecewa Dicoret Amorim
Amerika Serikat (AS) akan menyelenggarakan pemilihan presiden (Pilpres) pada 5 November 2024. Perjalanan pemilu presiden tahun ini diwarnai beragam dinamika, mulai dari pemecatan Donald Trump hingga pengumuman pengunduran diri Joe Biden hingga penggantinya Kamala Harris. .
Perlombaan ini memberi warga Amerika kesempatan untuk memilih presiden berikutnya untuk menggantikan Presiden saat ini Joe Biden. Lantas, apakah pemilu presiden AS akan berdampak pada Indonesia?
Pakar riset bisnis DBS Group, Maynard Arif mengatakan, volatilitas nilai tukar masih positif menjelang pemilu presiden AS. Ia mengatakan pasar melihat Trump berpeluang memenangkan pemilu presiden, meski calon oposisi digantikan oleh Kamala Harris.
Maynard mengatakan ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan jika Trump menang. Pertama, kebijakan Trump akan semakin mendukung warga Amerika di dalam negeri, baik dalam hal pajak dan tarif, yang dapat meningkatkan perekonomian AS.
“Jadi itu yang harus kita perhatikan. Apalagi Trump sepertinya lebih nyaman dari segi lingkungan dibandingkan Biden atau Harris. Jadi mungkin ada beberapa kebijakan yang patut kita perhatikan jika berdampak positif di Indonesia. sekarang,” katanya dalam wawancara kelompok. Chief Financial Officer Bank DBS, Jakarta Selatan, Selasa (7 Juni 2024).
Ia menegaskan Trump masih memiliki konflik dengan China. Di sisi lain, Indonesia masih dikaitkan dengan bangsa tekstil bambu. Oleh karena itu, ia menilai kebijakan Trump terhadap Tiongkok patut menimbulkan kekhawatiran.
“Jika Trump menang, banyak orang mungkin bertanya-tanya apa kebijakan Tiongkok terhadap Tiongkok dan apa dampaknya terhadap Indonesia.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank DBS Radhika Rao meyakini terlepas dari siapa Presiden terpilih AS, dolar AS diperkirakan akan terus menguat. Namun, menurutnya benteng tersebut tidak seperti sekarang.
Pasalnya, kata dia, baik calon presiden Trump maupun Harris sama-sama anti-China. Jika salah satu dari mereka memilih, Tiongkok akan sangat terpengaruh.
“Jadi jika menyangkut kebijakan Trump dan Harris, mereka mendapat banyak manfaat dengan mendukung kebijakan anti-Tiongkok. Tentu saja hal ini mempengaruhi kebijakan Tiongkok. Keduanya tampaknya berdampak buruk bagi Tiongkok. seperti dolar akan terus menguat, tapi mungkin tidak sekuat sekarang,” kata Radhika.
Radhika memperkirakan Bank Indonesia (BI) jarang melakukan pemotongan suku bunga seperti Bank Sentral AS dan Federal Reserve. Meskipun The Fed dapat menurunkan suku bunganya sebanyak empat kali, BI tidak terlalu sering melakukannya. Menurut dia, fluktuasi mata uang terus berlanjut.
“Jadi, kalau The Fed bisa menurunkan suku bunganya sebanyak dua kali pada tahun ini dan empat kali pada tahun depan, kemungkinan besar BI tidak akan banyak menurunkannya. Jadi kalau kita melihat situasi seperti ini, umur mata uang masih akan terus berlanjut.” .