Jakarta –
Read More : Tiba di Istana Jelang Dilantik Jadi Menteri Investasi, Rosan Bilang Gini
Penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja mengubah lanskap ketenagakerjaan. Bahkan ada posisi yang semakin diminati di era kecerdasan buatan.
Rohit Kalsy, direktur penjualan dan pasar negara berkembang di LinkedIn, mengatakan ini adalah peran seorang eksekutif AI. Laporan “Indeks Tren Pekerjaan 2024” yang dirilis oleh Microsoft dan LinkedIn menunjukkan bahwa posisi ini akan meningkat lebih dari 28% pada tahun 2023.
Permintaan jabatan direktur kecerdasan buatan meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir, kata Rohit dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (11 Juni 2024).
“Peningkatan ini signifikan karena juga berkorelasi dengan salah satu indikator tren lapangan kerja, yang menunjukkan tingginya tingkat adopsi solusi oleh para pemimpin akar rumput,” lanjutnya.
Temuan ini konsisten dengan data dari Microsoft dan LinkedIn, yang menunjukkan bahwa adopsi AI di perusahaan-perusahaan saat ini bersifat bottom-up, dengan karyawan yang mengadopsi AI terlebih dahulu, dibandingkan perusahaan yang menyediakan AI, atau “membawa AI mereka sendiri.”
Untuk itu, Rohit mengatakan posisi eksekutif AI semakin diminati karena membantu perusahaan menerapkan solusi dari atas ke bawah, dengan mengutamakan privasi dan keamanan data.
Selain itu, laporan yang sama mengungkapkan bahwa 12% perekrut mulai menciptakan peran baru yang khususnya terkait dengan penggunaan AI generatif. Jumlah lowongan pekerjaan di LinkedIn yang menyebutkan kecerdasan buatan atau AI generatif dalam deskripsinya juga meningkat sebesar 17% dalam dua tahun terakhir.
Rohit menegaskan, kehadiran kecerdasan buatan tidak akan mengakibatkan hilangnya karyawan yang ada. Penggunaan AI di tempat kerja lebih fokus pada penyelesaian tugas yang ada secara lebih efisien dan efektif.
“Ini tidak berarti bahwa AI akan diberi status khusus. Namun, pekerjaan yang sama yang kita lakukan memerlukan beberapa keterampilan AI. Hal ini telah berubah,” tutup Rohit. Tonton video “Microsoft menginvestasikan Rp 69 T di Prancis untuk membangun infrastruktur cloud” (vmp/fay)