Jakarta –
Read More : Hotman Paris Ketahuan Idap Abses Hati usai Berobat ke Singapura, Waspadai Gejalanya
Senyawa Bisphenol A (BPA) merupakan zat yang banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa ini banyak ditemukan pada produk plastik, seperti botol minuman, wadah makanan, tutup kaleng, dan liter isi ulang.
Jika kaleng terkena panas atau digunakan terus menerus, BPA dapat larut ke dalam air yang kita konsumsi sehari-hari. Diketahui bahwa senyawa BPA dapat mempengaruhi kesehatan.
Bagi ibu hamil, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa paparan BPA dapat berdampak buruk pada kesehatan janin. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa BPA dapat mempengaruhi hormon dan perkembangan janin.
Bagi bayi yang terpapar BPA, efeknya dikhawatirkan akan terus berlanjut hingga dewasa. Pasalnya, BPA dapat mengganggu hormon dengan berperan sebagai antagonis reseptor androgen dan menghalangi kerja hormon testosteron. Hal ini mempengaruhi perkembangan sistem reproduksi dan seks.
Seperti dikutip dalam Annals of Microbiology (2013), BPA juga dapat mengganggu hormon tiroid yang penting untuk perkembangan otak dan metabolisme. Sumber yang sama menyebutkan bahwa paparan BPA saat hamil dapat mempengaruhi perkembangan organ janin seperti prostat, kelenjar susu, dan otak serta dapat mempengaruhi pubertas dini dan gangguan reproduksi.
Tak hanya mengganggu hormon dan janin, paparan BPA juga terbukti meningkatkan penyakit jantung, terutama pada orang yang menjalani pola makan tinggi lemak.
Terkait bahaya BPA, banyak negara yang sudah memperkenalkan kemasan makanan dan minuman. Di Indonesia sendiri, undang-undang ini dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) UU no. 6 dari tahun 2024.
Ema Setyawati, Wakil Direktur Pengawasan Makanan BPOM, mengatakan 7 kematian terkait dengan paparan BPA dalam liter sekali pakai. Diantaranya penyakit sistem reproduksi, diabetes dan obesitas, penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, kanker, gangguan perkembangan mental, dan gangguan spektrum autisme (ASD) pada anak.
“Beberapa penelitian menunjukkan risiko kesehatan akibat paparan BPA melalui pengganggu endokrin, khususnya hormon estrogen,” kata Emma beberapa waktu lalu.
Dengan diterapkannya undang-undang ini, konsumen akan semakin sadar dan sadar akan pentingnya memilih produk yang aman. Anak-anak dan khususnya ibu hamil dianggap lebih rentan terhadap paparan BPA.
Label peringatan yang jelas membantu konsumen mengambil keputusan yang tepat saat membeli produk air minum kemasan.
Saksikan video “BPOM Wajibkan Label BPA pada Air Minum Galon” (anl/ega)