Jakarta-

Read More : Dani Olmo Bakal Dicoret Lagi dari Skuad Barca di LaLiga?

Laktosa merupakan salah satu jenis gula alami yang dapat bermanfaat untuk memberikan energi pada tubuh manusia. Gula alami ini terdapat pada semua jenis susu atau produk susu.

Oleh karena itu, sebelum diubah menjadi energi, laktosa ini diproses melalui sistem pencernaan menggunakan enzim laktase yang mengubahnya menjadi glukosa dan galaktosa sehingga dapat memberikan energi.

Sayangnya, proses ini bisa terganggu karena kurangnya enzim laktase dalam tubuh. Hal ini menyebabkan gangguan pencernaan yang disebut intoleransi laktosa. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai intoleransi laktosa, simak ulasan berikut ini. Apa itu intoleransi laktosa?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, intoleransi laktosa merupakan gangguan pencernaan di mana tubuh tidak mampu memproses laktase dan mengubahnya dengan baik menjadi glukosa.

Hal ini disebabkan oleh kekurangan enzim laktase di usus halus. Karena usus tidak dapat memecah laktosa, gula alami ini akan diangkut ke usus besar dan difermentasi di sana.

Karena perbedaan sistem pencernaan usus halus dan usus besar, laktosa yang diproses di usus besar berubah menjadi gas dan menyebabkan gangguan pencernaan.

Namun perlu Anda ketahui bahwa laktosa merupakan gula alami yang sering ditemukan pada susu atau produk susu, namun gangguan pencernaan ini jelas berbeda dengan alergi susu.

Dikutip dari John Hopkins Medicine, intoleransi laktosa adalah suatu kondisi dimana pencernaan gagal memproses laktosa, sedangkan alergi susu merupakan reaksi kekebalan tubuh terhadap protein yang terdapat dalam susu dan menyebabkan alergi.

Secara umum, gangguan pencernaan pada intoleransi laktosa terjadi karena kekurangan enzim laktase dalam tubuh.

Berdasarkan laporan Mayo Clinic, ada tiga jenis intoleransi laktosa dengan faktor penyebabnya masing-masing. Penjelasannya sebagai berikut: Intoleransi laktosa primer

Saat kita masih anak-anak, kita lebih banyak mengonsumsi susu dibandingkan makanan berat atau ringan. Saat itu, tubuh memiliki cukup enzim laktase untuk memecah laktosa yang diterimanya.

Seiring bertambahnya usia, enzim laktase mulai menurun karena kita mulai menggantinya dengan makanan atau minuman lain, namun laktase masih dalam kadar yang cukup untuk mencerna laktosa.

Namun pada kasus intoleransi laktosa primer, enzim laktase akan menurun drastis sehingga menyebabkan gangguan pencernaan. Kondisi ini biasanya dimulai saat anak berusia dua tahun dan permasalahannya akan terasa saat ia menginjak usia remaja atau dewasa

Seperti namanya, rendahnya kadar enzim laktase pada intoleransi laktosa sekunder bukan disebabkan oleh kondisi normal seperti intoleransi laktosa primer, melainkan disebabkan oleh faktor eksternal.

Misalnya rendahnya kadar enzim laktase akibat penyakit Crohn, penyakit celiac, radang usus besar, atau infeksi usus. Kondisi lain juga dapat menyebabkan intoleransi laktosa sekunder, seperti penggunaan antibiotik jangka panjang atau efek kemoterapi

Lalu ada intoleransi laktosa bawaan, yang terjadi saat janin berkembang di dalam rahim. Kondisi ini sering terjadi pada bayi yang lahir prematur.

Kondisi ini terjadi karena bayi prematur belum memiliki sistem pencernaan yang ideal, khususnya usus.

Namun kondisi ini hanya berlangsung sementara dan membaik seiring berkembangnya sistem pencernaan bayi

Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, intoleransi laktosa dapat disebabkan oleh penyakit genetik yang diturunkan dari orang tua. Hal ini menyebabkan bayi dilahirkan dengan sedikit atau tanpa enzim laktase.

Selain hal di atas, ada aspek menarik mengenai faktor risiko penyebab intoleransi laktase.

Menurut laporan dari Mayo Clinic, intoleransi laktase lebih sering terjadi pada etnis tertentu, yakni Afrika, Asia, Latin, dan Indian Amerika.

Gejala intoleransi laktosa biasanya muncul 30 menit hingga dua jam setelah penderita mengonsumsi susu atau produk olahan susu. Gejala yang paling umum adalah: sakit perut, sering perut kembung, diare, mual dan muntah serta perut kembung.

Tingkat keparahan gejalanya juga bervariasi tergantung pada jumlah laktosa yang dikonsumsi orang yang terkena, tingkat keparahan intoleransi laktosa, dan cara mencegahnya.

Susu yang mengandung laktosa paling banyak, juga mengandung berbagai komponen yang bermanfaat bagi tubuh, seperti kalsium, vitamin, dan protein.

Ketidakcukupan pencernaan ini mungkin berarti bahwa tubuh tidak dapat menyimpan nutrisi bermanfaat yang terdapat dalam susu dengan baik.

Kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi penyakit lain seperti malnutrisi, osteoporosis, dan osteoporosis. Bagaimana mencegah intoleransi laktosa

Kondisi ini sulit untuk dicegah, namun jika Anda menderita kondisi ini sebaiknya kurangi makanan atau minuman yang mengandung laktosa, terutama susu atau produk olahannya.

Sebaliknya, asupan nutrisinya bisa Anda peroleh dari produk selain susu, seperti ikan, sarden, makarel, sayuran hijau, dan sebagainya.

Jika intoleransi laktosa sangat parah, sebaiknya konsultasikan ke dokter spesialis. Penting juga untuk mendiagnosis intoleransi laktosa dan menentukan pola makan jika Anda menderita gangguan pencernaan ini. Saksikan video “Kematian Pria yang Melakukan Transplantasi Ginjal Babi” (inf/inf)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *