Jakarta –
Read More : 7 Tanda Penggumpalan Darah yang Tidak Boleh Disepelekan
Baru-baru ini Kementerian Kesehatan RI (KMENX) mengeluarkan surat edaran tentang aturan grup WhatsApp dan jaringan komunikasi lainnya (JARCOM) bagi peserta program pendidikan dokter khusus (PPDS). Kelompok ini sering dimanfaatkan oleh senior untuk memberikan bimbingan kepada PPDS junior.
“Di semua grup jaringan komunikasi, WhatsApp, Telegram, dan lain-lain, mahasiswa PPDS harus terdaftar resmi di rumah sakit, dan dalam grup tersebut harus ada perwakilan rumah sakit dan kepala departemen sebagai ketua program studi. memudahkan pengawasan,” jelas surat edaran tersebut. Jumat (25/10/2024) Grup WA Kementerian Kesehatan yang ditandatangani Dirjen Pelayanan Azhar Jaya kerap diserang.
Azhar Jaya menjelaskan, grup WhatsApp PPDS berguna sebagai wadah penyampaian informasi dan saran. Namun pada praktiknya, perundungan di lingkungan PPDS sering terjadi dalam kelompok diskusi antara lansia dan remaja.
Anak-anak korban perundungan di grup WhatsApp ini seringkali menerima hinaan, instruksi, perintah, dan hukuman yang melebihi batas kewajaran tanpa adanya tujuan pendidikan. Oleh karena itu, undang-undang baru ini diharapkan dapat memberikan pengawasan dan perlindungan terhadap anak di bawah umur di lingkungan PPDS.
“Salah satu penyebab yang kami lihat di tim Jarcom adalah tidak adanya pembinaan dari pihak rumah sakit maupun FK (Fakultas Kedokteran),” kata Azhar saat ditemui awak media di Jakarta Pusat, Senin (28/10/2024). ).
“Kalau di kelompok itu ada ketua program studi, ada KSM (kelompok tenaga medis), di tanda kutip, mereka lebih lunak dalam menuduh anak di bawah umur,” lanjutnya.
Azhar menegaskan, UU tersebut merupakan langkah untuk melindungi anak di bawah umur di PPDS. Ini bukan bentuk pembatasan dan bukan pelanggaran privasi.
“Grup ini dibentuk untuk memudahkan informasi dan komunikasi? Pertanyaan saya, buat apa disembunyikan kalau tidak ada yang perlu ditakutkan?” ujar Azhar.
Menurut dia, cara tersebut merupakan salah satu cara untuk menjaga transparansi dalam melakukan koordinasi dan pemberian perintah kepada mitra PPDS. Dalam kebanyakan kasus intimidasi, junior menerima instruksi khusus di grup chat tanpa diajar oleh orang dewasa.
“Itu grup edukasi, grup jaringan, mau private apa? Orangnya terbatas. Dia mau ngomong, misalnya kondisi pasiennya baik. Apa yang kamu takutkan?” dia menambahkan lagi.
Berikutnya: Semua jenis grup WhatsApp tidak dilaporkan.
(avk/naf)