Jakarta –
Harga pangan di Indonesia disebut-sebut termahal di Asia Tenggara. Hal ini membuat harga pangan masyarakat Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara tetangga.
Laporan FAO menyebutkan biaya pangan bergizi di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Masyarakat kita harus mengeluarkan 4,47 dolar AS atau Rp 69.000 setiap hari untuk mendapatkan pangan bergizi, ujarnya. .
Sementara jumlah mereka di negara tetangga lebih sedikit dibandingkan di Indonesia. Misalnya, harga makanan $4,3 di Thailand, $4,1 di Filipina, dan $3,5 di Malaysia.
“Pada saat yang sama, 183 juta masyarakat kita tidak memiliki akses terhadap makanan bergizi,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengatakan dirinya mengecek langsung harga pangan di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Korea. Menurut dia, harga pangan lebih tinggi dibandingkan di Indonesia.
“Semua rak ritel (ritel) harganya lebih mahal daripada rak kami saat kami menggantinya. Saya foto satu per satu dan semuanya menunjukkan bahwa harga pangan kita tidak terlalu mahal,” ujarnya.
Di Malaysia harga eceran beras premium Rp 14.104/kg-Rp 17.272/kg, harga telur Rp 28.000-30.600/10 butir, gula pasir Rp 18.900/kg, minyak goreng Rp 25,70/kg. /liter-Rp 25.344/liter, bawang putih Rp 55.440/kg, kecil Rp 46.285/kg dan paprika merah Rp 93.000/kg.
Sedangkan harga eceran beras di Indonesia ditetapkan sebagai Harga Eceran Tertinggi (HET), harga beras premium Rp 14.900/kg, dan harga beras rata-rata Rp 12.500/kg. Harga rata-rata beras premium nasional saat ini Rp 15.480/kg dengan rata-rata Rp 13.530/kg.
Selain itu, harga rata-rata nasional yang dikutip Panel Harga Pangan Nasional adalah Rp34.020/kg, bawang putih Rp40.370/kg, cabai merah asap Rp39.570/kg, gula konsumsi Rp17.990/kg, dan harga telur ayam ras Rp28,5/kg.
Tonton juga videonya: Menlu umumkan rencana kerja sama ketahanan pangan antara Indonesia dan Vietnam
(batang/gambar)