Jakarta –

Read More : Ketahui Kanker Payudara Lebih Spesifik dengan Imunohistokimia

Beberapa waktu lalu, sempat viral perdebatan di kalangan netizen di media sosial mengenai obat tablet mana yang aman untuk dihancurkan atau tidak. Ada orang-orang yang percaya bahwa orang tidak boleh menganggap remeh obat-obatan yang mereka minum. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa menghancurkan tablet itu baik, terutama bagi orang yang kesulitan menelan obat padat.

Netizen @fln**e_ mengatakan melalui akun sosial X, “Normalisasi artinya ada orang yang tidak bisa minum obat karena trauma atau sebab lain, jadi tidak perlu menghancurkan obatnya atau memasukkannya ke dalam pisang terlebih dahulu. ” , media melaporkan.

Netizen lainnya berkata, “Yang jelas sebaiknya konsultasi ke dokter dulu gan, karena tidak semua tablet atau kapsul bisa dihancurkan.”

Lalu apa fakta sebenarnya? Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada. Zullies Ikawati menjelaskan, tablet tidak boleh dihancurkan sembarangan. Ia mengatakan, ada berbagai jenis obat padat yang dirancang untuk dilepaskan secara perlahan ke dalam tubuh atau dirancang khusus untuk pelepasan berkelanjutan.

Artinya, obat dirancang untuk dilepaskan secara perlahan di dalam tubuh agar pasien tidak menggunakannya berulang kali. Dengan kata lain, cukup sehari sekali, obat diisi ulang secara bertahap pada hari itu. tidak boleh digunakan dalam bentuk seperti itu. Akan dihancurkan karena melanggar atau tidak sesuai tujuannya,” kata Prof Zullies saat dihubungi detikcom, Selasa (7/5/2024).

Selain itu, jenis obat lain yang tidak boleh dihancurkan adalah obat pelepasan berkelanjutan. Contoh obat lepas lambat adalah obat salut enterik.

Obat salut enterik dirancang untuk tidak dilepaskan dan diserap langsung oleh tubuh. Pelepasan obat salut enterik akan “tertunda” hingga obat melewati lambung dan mencapai usus halus atau usus besar.

“Jadi misalnya tablet salut enterik, berarti diharapkan keluar nanti setelah melewati lambung. Sebab, misalnya obat itu mengiritasi lambung atau mungkin tidak baik untuk lambung. Obatnya dilapisi, jadi kalau masuk ke usus akan terurai,” tegasnya.

Untuk memastikan apakah obat tersebut bisa dipecah atau tidak, Prof Zullies meminta masyarakat mengecek terlebih dahulu ke apoteker tempat mereka membeli obat tersebut. Hal ini penting untuk mencegah efektivitas obat menurun bahkan menghindari risiko overdosis yang mungkin terjadi. “Periksa faktanya! Benarkah efek samping minum obat bisa menyebabkan penyakit ginjal? (avc/naf)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *