Jakarta-

Read More : Tembus Lima Besar Top Skor Sepanjang Masa Liverpool, Salah Happy

PT Indofarma Tbk belakangan ini tengah menjadi sorotan publik. Pasalnya, perusahaan farmasi pelat merah dan anak usahanya, PT Indofarma Global Medika (IGM) ini tengah dalam pengawasan karena dugaan penipuan atau penyelewengan laporan keuangan.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kartika Wirjuatmudjo mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan pendekatan hukum terhadap permasalahan tersebut.

Hal ini sejalan dengan temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) dan Kejaksaan (Kejagung). Pria yang akrab disapa Tico ini menegaskan pihaknya akan mengambil tindakan tegas terhadap oknum-oknum bermasalah di pemerintahan.

“Kami sebenarnya menempuh pendekatan hukum, jadi sejalan dengan kesimpulan BPK dan Kejaksaan. Ya, kami menghormati hukum dan akan menindak tegas pemerintahan yang bermasalah itu,” kata Tico yang hadir di acara tersebut. Konferensi Jakarta. JCC Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2024).

Dampak fintech peer-to-peer (P2P) lending dan penipuan pertama kali terungkap melalui temuan BPK. Total ada 18 investigasi, 10 di antaranya mengarah pada penipuan dengan perkiraan kerugian kumulatif sebesar Rp 436,87 miliar.

Sebelumnya, Direktur Utama Bio Farma Sadik Acacia menjelaskan isi Laporan Temuan Penyidikan (LHP) yang diserahkan BPK ke Kejaksaan Agung. Dari 10 temuan penipuan, satu terkait pinjaman PT IGM senilai Rp 1,26 miliar.

“Pinjaman melalui fintech yang tidak bermanfaat bagi masyarakat akan menimbulkan kerugian bagi IGM sebesar Rp 1,26 miliar,” ujarnya saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Panitia VI DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu ( 6). /19/2024).

Secara keseluruhan, Indopharma hingga tahun 2023. Pada tahun 2023, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp524 miliar, turun 54,2% dibandingkan pendapatan tahun 2022 sebesar Rp1,14 triliun. Perseroan juga mencatatkan kerugian sebesar Rp605 miliar pada tahun 2023, meningkat sekitar 40% dibandingkan tahun 2022 yang mencapai Rp428 miliar.

Apalagi, jumlah beban sebelum pajak atau EBITDA tahun 2023 tercatat negatif Rp 293 miliar. Menurut Sadiq, angka tersebut lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar minus 361 miliar rupiah. Nilai saham perseroan pun tercatat minus 615 miliar rupiah. Sedangkan total aset pada tahun 2023 mencapai Rp 933 miliar.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden dan Direktur PT Indofarma Tbk Yeliandriani angkat bicara menanggapi temuan BPK tentang pinjaman online (pinjol). Ia memastikan uang pinjaman tersebut akan ditarik pada 2022. Namun, pinjaman tersebut hanya diberikan beberapa bulan dan kini sudah dilunasi.

“Pinjaman ini sesuai dengan laporan adanya fintech loan pada tahun 2022, namun hanya dipinjam beberapa bulan dan sudah dilunasi,” kata Yelandriani dalam keterangan yang sama.

Dia menjelaskan, perusahaan meminjam uang ke Bingol melalui nama pribadi karyawannya. Ia mengatakan, penipuan ini tergolong berani. Ia menjelaskan, “Perusahaan memperoleh pinjaman dengan meminjam nama karyawannya. Penipuan yang terjadi di Indopharma banyak sekali dan sangat berani.”

Yelandriani menjelaskan, kasus penipuan ini melibatkan 5 pegawai yang memiliki kewenangan besar. Meski demikian, ia enggan membeberkan identitas kelima pegawai tersebut, namun yang jelas kelima pegawai tersebut sudah keluar dari Indopharma.

Berdasarkan laporan yang kami baca, yang terlibat dalam penipuan ini hanya 5 orang. Orang-orang ini sekarang sudah tidak ada lagi. Jadi kami yakin Indopharma kini sudah bebas dari penipuan ini, ujarnya. (keraguan/lunas)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *