Jakarta –
Read More : Makin Banyak Pasien RI ‘Kebal’ Antibiotik, 70 Persen Alami Resisten Antimikroba
Pakar polimer Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr Ir Ahmad Zainal Abidin mengatakan pelabelan kemasan makanan dan minuman sebagai “BPA Free” tidak mendidik. Itu karena BPA, atau bisphenol A, bukanlah satu-satunya bahan yang berbahaya bagi kesehatan Anda.
“Jangan sampai disesatkan atau disesatkan,” kata Profesor Ahmad saat diskusi panel “Menyebarkan Misinformasi Tentang Dampak BPA Bagi Kesehatan” di e+e Coffee Kitchen Semanggi, Rabu (17/07/2024).
Menurut Profesor Ahmad, produk yang mengandung BPA seharusnya aman asalkan berada pada kadar yang ditentukan oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Batasan maksimum migrasi BPA dalam Peraturan Kemasan Pangan Nomor 20 Tahun 2019 adalah 0,6 bagian per juta (bpj).
Selain itu, pengetahuan yang tepat mengenai penggunaan produk yang mengandung BPA dapat mengurangi risiko perpindahan dari wadah atau kemasan ke makanan atau minuman. misalnya Jangan terlalu panas.
Menurut Profesor Ahmad, label “Bebas BPA” mengurangi risiko paparan zat berbahaya selain BPA. Ia mengatakan setiap jenis plastik mengandung bahan tertentu yang lebih aman dibandingkan BPA.
“Kalau polietilen tereftalat (diberi label) ‘Bebas BPA’, padahal benar tapi tidak ada manfaatnya, yang berbahaya di dalamnya adalah etilen glikol,” kata Profesor Ahmad.
Jenis plastik yang digunakan Profesor Ahmad sebagai contoh mengandung formaldehida yang menyebabkan kebutaan. Ada juga jenis yang mengandung senyawa stirena; Aman selama langkah-langkahnya tidak cocok dan digunakan dengan benar.
“Label-label ini (Bebas BPA) tidak mendidik. Padahal, ada puluhan bahan berbahaya yang dilarang BPOM. Label BPOM harusnya cukup untuk menjamin bahwa semuanya aman, jangan dicantumkan satu per satu,” kata profesor itu. Ahmad “BPOM kini mewajibkan label BPA pada botol air galon” Simak videonya (atas/naf)