Jakarta –
Read More : Kaki Bengkak Bikin Bumil Insecure, Begini Cara Mudah Mengatasinya
Kasus Penyakit Tangan dan Kaki (HFMD) atau Flu Singapura diyakini semakin meningkat di DKI Jakarta. Hal ini terjadi setelah beberapa sekolah meluncurkan imbauan untuk menghindari penyakit gondongan dan ‘flu Singapura’ untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr. Maryati Kasiman, M KKK mengatakan, jumlah kasus HFMD di DKI Jakarta mengalami penurunan setelah mencapai puncak kasus pada Mei 2024 berdasarkan data Puskesmas setempat.
Hingga minggu ke-32, Dr Maryati mengatakan terdapat 890 kasus dugaan HFMD yang dilaporkan oleh puskesmas dan 502 kasus oleh rumah sakit. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang dicurigai, semuanya negatif HFMD.
HFMD disebabkan oleh virus coxsackie. Sejauh ini, pemberitaan sesuai dengan tanda dan gejala manifestasi virus ini. Penyebaran virus HFMD bisa melalui kontak kulit, menghirup udara, cairan dari kista (benjolan kecil), atau melalui kontak dengan kulit. kotoran.
Biasanya laporan HFMD terutama pada anak-anak merupakan salah satu tempat berkumpulnya masyarakat, misalnya sekolah, dll. Hubungannya dengan imunitas tubuh individu, tingkat kebersihan, dan lamanya kontak dengan orang yang sakit. lanjutnya.
Dr. Maryati mengatakan, ada beberapa gejala HFMD yang harus diwaspadai, antara lain: Demam, radang tenggorokan, sariawan di rongga mulut, biasanya di bagian belakang mulut atau di pangkal tenggorokan atau dekat amandel. . . Ruam merah dan kenyal di telapak tangan dan telapak kaki, termasuk lecet Tidak nafsu makan Anak mudah tersinggung Menjadi lemah atau tidak aktif Mengiler lebih dari biasanya.
Gejala HFMD biasanya muncul 3 hingga 6 hari setelah terpapar sumber infeksi, lanjutnya.
NEXT: Sebaran kasus suspek HFMD di DKI Jakarta
(jus/up)