Jakarta –
Read More : Kata Studi, Cara Minum Kopi Seperti Ini Bisa Bikin Jantung Sehat
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC) melaporkan bahwa jumlah total kasus Mpox, atau cacar monyet, di benua ini hampir mencapai 30.000 kasus. Jumlah tersebut termasuk 6.105 kasus terkonfirmasi dan 738 kematian sejak awal tahun ini.
“Minggu lalu tercatat 2.912 kasus baru di Afrika. Angka tersebut mencakup 374 kasus terkonfirmasi dan 14 kematian, sehingga total kasus virus Mpox yang dilaporkan tahun ini menjadi 29.152 kasus,” kata Dirjen. Jean Kaseya dari CDC Afrika dikutip Xinhua, Senin (23/9/2024).
Kaseya mengatakan kasus-kasus ini telah dilaporkan di 15 negara Afrika di lima wilayah benua tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa perjalanan lintas batas, malnutrisi dan aktivitas seksual yang tidak aman merupakan beberapa faktor risiko utama penularan Mpok.
CDC Afrika juga baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan rencana respons untuk benua tersebut bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Paket 6 bulan berlangsung dari September 2024 hingga Februari 2025 dan diperkirakan menelan biaya sekitar $600 juta atau setara Rp9,1 triliun.
Dari jumlah tersebut, 55 persen dialokasikan untuk tindakan pengendalian Mpox di negara-negara yang terkena dampak, sedangkan 45 persen sisanya ditujukan untuk dukungan operasional dan teknis dari organisasi mitra.
Mpox, juga dikenal sebagai cacar monyet, pertama kali ditemukan pada sekelompok monyet pada tahun 1958.
Pada pertengahan Agustus, CDC Afrika mengumumkan bahwa wabah Mpox di Afrika merupakan ancaman kesehatan masyarakat kontinental (PHECS).
Selanjutnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Mpox sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Kepedulian Global (PHEIC) untuk kedua kalinya dalam dua tahun, sehingga memicu tingkat kewaspadaan Mpox global tertinggi.
Berikutnya: Penularan dan Gejala Penyakit Mpok
(sukses/sukses)