Jakarta –

Read More : Prabowo Klaim Keberhasilan MBG 99,99%, November Tembus 82,9 Juta Penerima

Asosiasi Berbagai Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mengaku telah menerima surat dari Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) yang berisi laporan akhir penyidikan anti dumping untuk mengenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap impor. barang-barang. produk ubin keramik dari China. Mereka menyatakan, berdasarkan hasil penyelidikan dan verifikasi KADI, terbukti terjadi aktivitas dumping terhadap produk tersebut.

“Setelah dilakukan serangkaian proses investigasi dan verifikasi lapangan di RRC (China), terbukti memang ada tindakan dumping seperti yang diberitakan ASAKI satu setengah tahun lalu,” kata Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto. . dalam keterangan resmi, Rabu (3/7/2024).

ASAKI kemudian memperkirakan besaran BMAD bervariasi antara 100,12% hingga 155% untuk kelompok kepentingan koperasi, serta besaran 199% untuk non-koperasi dalam survei KADI, mencerminkan bentuk keadilan dan keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan berkelanjutan. industri keramik nasional yang sudah terpukul oleh produk impor.

“ASAKI mengapresiasi keberadaan BMAD akan memberikan peluang bagi industri keramik nasional untuk bersaing secara ‘level playing field’. Kehadiran BMAD juga akan mempercepat masuknya investasi baru dan serapan tenaga kerja baru yang telah dilaporkan oleh beberapa importir besar. kepada ASAKI tentang “membangun pabrik keramik di Indonesia seperti di Subang, Batang dan Kendal”, jelasnya.

Organisasi tersebut kemudian menegaskan bahwa pihaknya tidak terlalu menentang produk keramik yang diimpor dari Tiongkok dan tidak melarang kegiatan tersebut. Namun yang dilawan adalah praktik perdagangan tidak adil yaitu aktivitas dumping dan pricing yang merugikan industri keramik dalam negeri.

Oleh karena itu, ASAKI meminta pemerintah, khususnya Menteri Perdagangan Zulikfili Hasan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, segera menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) BMAD untuk produk ubin keramik yang diimpor dari China.

“ASAKI meminta perhatian dan tindakan cepat kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Keuangan untuk segera menerbitkan PMK BMAD untuk produk ubin keramik yang diimpor dari Tiongkok, karena dapat dipastikan masa tenggang penerbitan Surat KADI untuk mengumumkan PMK tersebut BMAD akan digunakan importir untuk melakukan impor dalam jumlah besar untuk menghindari bea masuk baru,” jelasnya.

Di sisi lain, organisasi juga meyakini semakin cepat PMK BMAD diterapkan maka tingkat utilisasi produk pada semester I 2024 akan semakin menguat, yang kini turun menjadi 63%. Sebab, tingkat utilisasi tahun lalu sebesar 69% dan pada 2022 berada di angka 75%.

Menurut ASAKI, pemerintah harus belajar dari pengalaman negara-negara di Uni Eropa, Timur Tengah, Meksiko, bahkan Amerika Serikat yang kini telah menerapkan anti dumping dan BMAD 200%-400% pada produk impor asal China.

“Semoga hadirnya anti dumping dapat mengembalikan Industri Keramik pada masa kejayaannya pada tahun 2012-2014 dimana tingkat utilisasinya diatas 90%,” tutupnya. (memberi/memberi)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *