Jakarta –
Read More : Seperti Ini Ramalan Ekonomi Indonesia di Akhir 2024
Kelas menengah adalah kelas menengah dalam kedudukannya dalam masyarakat Namun mendefinisikan kelas menengah sangatlah sulit
Karena kelompok sosial tersebut bisa mewakili kelompok yang berbeda-beda Kita bisa membedakan antara kaya dan miskin dari sudut pandang pendapatan Sedangkan dari segi kelas sosial, kita dapat membedakan antara kelas bawah dan kelas atas
Namun banyak ahli yang mendefinisikan kelas menengah sebagai kategori pendapatan Gambaran tentang kelas menengah menurut para ahli
Banyak pakar yang memaparkan pandangannya tentang kelas menengah dalam e-journal Mohammad Afdi Nizar, The Middle Class dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Lihat di bawah: 1. Birdsall, Graham dan Pettinato
Kelas menengah diklasifikasikan berdasarkan pendapatan (income) sebagai kelas dalam masyarakat yang berkisar antara 75 persen hingga 125 persen pendapatan per kapita. Banerjee dan Duflo
Masyarakat kelas menengah yang pengeluaran per kapitanya antara 2-4 USD dan pengeluaran per kapitanya antara 6-10,3 USD. Tombak
Kelas menengah adalah mereka yang memiliki pendapatan tahunan lebih dari $3.900 dalam paritas daya beli atau PPP
Terdapat faktor-faktor penentu yang dapat mendorong tumbuhnya kelas menengah di masyarakat dan berkontribusi lebih besar terhadap proses pembangunan. Faktor-faktor berikut: 1. Perkembangan ekonomi dan distribusi pendapatan
Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dapat mendorong masyarakat keluar dari kemiskinan dan masuk ke kelas menengah Sebab, pertumbuhan ekonomi berperan penting dalam mengentaskan kemiskinan dengan meningkatkan populasi kelas menengah Pekerjaan dan pendidikan
Pemberian kesempatan kerja yang berlimpah harus diimbangi dengan upah yang stabil dan memadai untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, perusahaan hendaknya memberikan berbagai tunjangan dan dukungan kepada seluruh karyawannya
Pendidikan juga menjadi perhatian Beberapa orang dapat bergabung dengan kelompok kelas menengah jika mereka mengenyam pendidikan tinggi Kecepatan dan Kelemahan
Kelas menengah mungkin tumbuh dengan pesat, namun ada pula kelompok ini yang dapat dengan mudah kembali jatuh ke dalam kemiskinan. Oleh karena itu, kelas menengah belum dianggap sebagai kelas yang aman karena berisiko terjerumus ke dalam kelompok kelas bawah di Indonesia.
Bank Dunia (WB) mewakili kelas menengah Indonesia Hal tersebut tertulis dalam laporan Aspiring Indonesia: Memperluas Kelas Menengah Tahun 2020
Dalam laporan ini, penduduk Indonesia tidak hanya kaya dan miskin, namun dipandang sebagai kelompok penting yang berperan penting dalam pembangunan ekonomi kelas menengah.
Menurut Bank Dunia, tingkat kelas sosial berdasarkan pola konsumsi adalah: Miskin: Di bawah garis kemiskinan Harga biaya Rp 354 ribu per bulan Miskin: Di atas garis kemiskinan, namun rentan miskin Menghabiskan Rp 354 ribu per bulan 532 ribu Calon Kelas Menengah: Kelas Rentan Total Biaya mulai Rp 532 ribu hingga 1,2 juta per bulan Kelas menengah: Kelas yang terlindungi dari risiko masuk ke dalam kelas miskin atau rentan. Kelas pembelanjaan di atas Rp 6 juta per bulan: kelas paling makmur di Indonesia. Biayanya lebih dari 6 juta per bulan
Dengan latar belakang tertentu, produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia pada tahun 1967 hanya sebesar US$657, menjadikannya salah satu negara termiskin di dunia. Namun setelah 50 tahun, pertumbuhan ekonomi negara tersebut mencapai 5,6% setiap tahunnya. PDB per kapita meningkat enam kali lipat menjadi US$4.000.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan salah satu faktor dibalik pengentasan kemiskinan tercepat sepanjang sejarah Saat ini kelas menengah semakin berkembang di Indonesia. Kelompok ini menyumbang setengah dari konsumsi Indonesia dan merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi
Menurut laporan Bank Dunia, saat ini terdapat sekitar 52 juta masyarakat kelas menengah di Indonesia, atau satu dari lima penduduk Indonesia.
Dengan kata lain, satu dari lima masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar Rp 6 juta per bulan Menurut Bank Dunia, masyarakat kelas menengah menghabiskan jumlah tersebut untuk perjalanan, hiburan, dan bahkan mobil.
Pada level 1, kelas menengah hanya menghabiskan 4% untuk hiburan Namun, belanja hiburan meningkat menjadi 9% di tahap menengah 2 Jumlah ini sedikit berbeda dengan belanja hiburan kelas atas yang sebesar 11%.
Selain itu, pergantian kendaraan dari sepeda motor ke mobil juga menjadi salah satu tanda seseorang memasuki kelas menengah. “Peralihan dari sepeda motor ke mobil merupakan salah satu indikator utama keberadaan kelas menengah,” kata Bank Dunia.
Faktanya, sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki sepeda motor seperti halnya masyarakat miskin Faktanya, sekitar 50% masyarakat Indonesia memiliki sepeda motor Namun kepemilikan mobil berbeda antara kelas sosial ekonomi menengah dan bawah
Seperempat populasi kelas menengah memiliki mobil Kepemilikan mobil di atas 20% berada pada tingkat kelas menengah 1 Namun kepemilikan mobil di tingkat kelas dua sudah mencapai 60%. Sedangkan di kalangan kelas atas sudah mencapai 80%.
Menariknya, masyarakat kelas menengah Indonesia juga suka jalan-jalan atau jalan-jalan Menurut Bank Dunia, sekitar 40% kelas menengah melakukan perjalanan lebih banyak dibandingkan kelompok lain di Indonesia, atau 1,4 kali per kuartal. Juga, mereka bepergian untuk bersenang-senang
Sementara separuh masyarakat kelas bawah melakukan perjalanan bukan untuk bersenang-senang melainkan mengunjungi teman atau keluarga Hanya tiga perempat dari kelas menengah ke bawah yang melakukan perjalanan piknik Sementara itu, sekitar 40% masyarakat kelas menengah berlibur dengan kapal pesiar
Inilah gambaran kelas menengah di masyarakat Semoga artikel ini dapat menambah informasi mengenai detektor “Upah tidak naik, daya beli melemah” (ilf/fds)