Jakarta —
Read More : Jadwal Liga Champions Tengah Pekan Ini: Babak 16 Besar Dimulai!
Teknik penipuan online menjadi lebih canggih dan lazim di media sosial. Kenyataannya, sangat sedikit orang yang terjebak seperti ini dan akhirnya kehilangan banyak uang.
Pemerintah kerap meningkatkan berbagai program pendidikan dan sosialisasi untuk mencegah masyarakat terjerumus ke dalam modus ini. Sayangnya, meski kesadaran sudah meningkat, masih banyak orang yang terus menjadi korban penipuan ini. Jadi mengapa ini bisa terjadi?
Berikut alasan mengapa orang sering menghadapi penipuan online, mengutip berbagai sumber.
1. Keterbatasan informasi
Salah satu penyebab orang sering menjadi korban penipuan online adalah terbatasnya informasi. Rendahnya literasi digital dapat meningkatkan risiko seseorang menjadi korban penipuan online.
Selain itu, ada berbagai metode penipuan online saat ini. Tentunya hal ini perlu terus dikembangkan kemampuan digitalnya agar terhindar dari penipuan dengan berbagai cara.
2. Iming-iming imbalan
Selain keterbatasan informasi, iming-iming imbalan yang menarik juga menjadi salah satu penyebab seseorang bisa menjadi korban penipuan online. Sebab penipu biasanya ‘memancing’ calon korbannya dengan beberapa hadiah.
Cara penipuan hadiah bermacam-macam, mulai dari menjual barang mewah dengan harga murah, undian gratis, dan lain-lain.
Untuk menghindari hal tersebut, usahakan kritis untuk menghindari mode cheat ini. Tujuan dari sikap kritis ini adalah untuk mendorong Anda mencari informasi yang diperlukan sebelum Anda percaya pada hadiah undian.
3. Penuh ketegangan dan stres
Stres dan tekanan juga menjadi salah satu penyebab seseorang bisa terkena penipuan online. Pasalnya, ketika ia sedang stres, tingkat rasionalnya menurun.
Inilah salah satu alasan mengapa besar kemungkinan terkena penipuan online. Berbicara tentang metode curang, ada rumor di media sosial tentang informasi kartu fisik.
Unggahan tersebut memuat informasi mengenai syarat dan ketentuan proses pembuatan kartu fisik pada aplikasi DANA. Faktanya, DANA menyatakan dalam situs resminya bahwa pihaknya tidak pernah menerbitkan atau menerbitkan kartu fisik dalam bentuk apapun.
DANA juga menghimbau masyarakat khususnya pengguna DANA untuk #Waspadalah terhadap Jebakan Penjahat agar terhindar dari modus tersebut dengan mengikuti 3 langkah.
Memantau
Waspadai dan selidiki jika Anda mendeteksi aktivitas mencurigakan saat menghubungi Anda. Jika ada yang memberi tahu Anda bahwa DANA adalah kartu fisik, jangan menyerah pada godaan, klik tautan yang diberikan orang tersebut! Yang pasti DANA tidak memiliki kartu fisik.
Konfirmasi
Periksa nomor/akun/link yang menghubungi DANA Protection untuk mengetahui apakah benar dari DANA. Caranya adalah dengan membuka DANA Protection di aplikasi DANA, lalu masukkan nomor, jejaring sosial atau link, lalu verifikasi validitasnya.
Pesan
Jika terdeteksi adanya penipuan, segera laporkan melalui DANA Protection. Nantinya pelanggan DANA akan terhubung langsung dengan layanan Komdigi. Dengan melakukan hal ini, Anda membantu mencegah penipu untuk mengklaim lebih banyak korban dengan menyamar sebagai kartu DANA fisik.
Berikut tiga hal yang bisa dilakukan pelanggan DANA untuk menghindari penipuan kartu fisik DANA. Untuk menjamin keamanan, unduh DANA hanya dari penyedia aplikasi resmi.
Hindari juga menginstal dari tautan yang dibagikan di grup pesan instan seperti WhatsApp, Telegram, dan lainnya. Pengguna juga diminta untuk selalu merahasiakan kode PIN dan OTP-nya. Jangan pernah membaginya kepada siapa pun, termasuk DANA.
Agar transaksi lebih aman dan nyaman, pastikan Anda hanya mengakses informasi melalui platform resmi DANA Indonesia. Jadi tunggu apa lagi? Ayo unduh dan gunakan DANA Digital Wallet sekarang! (hati/otak)