Jakarta –
Read More : Sri Mulyani Beberkan 87 Akun Palsu di TikTok yang Catut Namanya
Presiden Prabowo Subianto berencana membangun bandara di Bali utara untuk mengurangi keramaian wisatawan di Bali selatan sekaligus ingin menjadikan Pulau Dewata Hong Hong baru dan Singapura baru. Apakah program tersebut cukup baik?
Rencana pembangunan bandara di Buleleng itu disampaikan Prabowo saat berkunjung ke Bali akhir pekan lalu, Minggu (11/3/2024).
Saya katakan, saya berkomitmen untuk pembangunan Bandara Internasional Bali Utara, kata Prabowo saat berbicara di restoran Bendega, Denpasar.
Prabowo mengatakan proyek tersebut akan mendukung pariwisata di Bali utara, sehingga bisa menjadikan Bali Singapura Baru atau Hong Kong Baru.
Bali saat ini memiliki satu bandara yaitu Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang terletak di Kuta, Badung. Kawasan Badung merupakan pusat bisnis dan pariwisata, antara lain hotel, kafe, restoran, dan beach club.
Untuk mencapai kawasan Bali Utara dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, wisatawan harus menempuh perjalanan darat selama lima hingga enam jam. Bali tidak memiliki transportasi umum yang memadai. Untuk berkeliling Pulau Dewata, masyarakat lokal dan wisatawan mau tidak mau harus bergantung pada mobil sewaan atau sepeda motor.
Mahawan Karuniasa, dosen Fakultas Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia yang juga anggota Dewan Pariwisata Berkelanjutan Indonesia, mengatakan Bali sangat membutuhkan infrastruktur dan konektivitas yang berkembang dengan baik seperti Singapura dan Hong Kong. Hal ini harus mendukung mobilitas ekonomi dan sosial. Namun, ia menilai penggunaan istilah neh Singapura dan ne Hong Kong kurang tepat.
“Kita harus meninggalkan Bali sebagai Hong Kong baru dan Singapura baru. Saya rasa cukup dan kami sampaikan Bali akan membangun infrastruktur destinasi wisata, infrastruktur modern atau syarat lainnya,” kata Mahavan kepada detikTravel, Rabu (6/11/2024).
“Membangun infrastruktur Bali sebagai destinasi pariwisata berkaitan dengan daya dukung masyarakat di sana serta aspek ekologi, sosiologi, dan budaya. Pembangunan di sana tidak bisa meniru Hong Kong dan Singapura. Cuma dari segi wilayahnya saja yang berbeda Bali. delapan kali lebih besar dari Singapura,” kata Mahava.
“Setiap tempat di Bali sebenarnya terhubung melalui akses darat, ada jalan disekitarnya, ada juga jalan bypass. Jadi perlu kehati-hatian dalam membangun infrastruktur agar pembangunan tidak memperlancar akses pariwisata dan mengurangi mobilisasi ke destinasi wisata,” Mahavan. dikatakan:
Mahawa mengatakan, penghentian akses ke lokasi wisata bisa terjadi ketika pemerintah membangun bandara di Bali utara. Dengan adanya dua bandara di Kuta dan Buleleng, kawasan wisata di antara kedua kawasan tersebut berpotensi sepi pengunjung.
Selain itu, pembangunan bandara di Bali Utara dinilai belum menjadi solusi efektif untuk mengurangi kemacetan wisata di Kuta, Seminyak, Jimbaran, Canggu, Nusa Dua, dan Sanur yang saat ini menjadi destinasi utama wisata.
“Apakah akan dibangun bandara di Bali Utara untuk mengurangi jumlah wisatawan di Bali Selatan? Saya kira tidak, karena saya yakin jika bandara dibangun di Utara maka kepadatan wisatawan juga akan muncul di Bali Utara. .” Yang terjadi justru terjadi penumpukan wisatawan di Bali Utara dan Selatan,” kata Mahavan.
“Memiliki bandara di utara tidak akan mengurangi kemacetan di selatan. Saat ini Bali Selatan sedang padat, kalau di Utara ada bandara, kemungkinan Bali Utara juga akan padat. Efek lain setelah punya bandara. Bali Utara wisatawan tidak akan melewati kawasan wisata yang berada di antara Bali Utara dan Selatan, bisa jadi destinasi ini nantinya akan hilang,” imbuhnya.
Mahawa juga mengkhawatirkan dampak lain jika bandara di Bali utara diresmikan, yakni Bali secara keseluruhan akan semakin padat. Wisata alam yang dimulai dari hutan dan persawahan akan menjadi bangunan yang lebih sederhana dan konkrit berupa resort atau tempat perbelanjaan, restoran dan kafe.
Belum lagi dampak-dampak lain yang terjadi jika penataan ruang tidak memadai. Ia merujuk pada perkembangan dan perkembangan di sekitar Bandara I Gusti Ngurah Rai. Mahava mengatakan Bali harus menjaga keistimewaannya dengan destinasi wisata lain di dunia.
“Masalah Potensi Obat. Lahan yang dikembangkan pembangunan Bandara I Gusti Ngurah Rai saat ini menonjol hingga kawasan Ubud. Area terbangun semakin luas. “Nah, Buleleng sudah menjadi kawasan perkotaan. Kalau ke depan ada penambahan pembangunan bandara, maka lahan yang dikembangkan di sana akan semakin banyak yang tereksploitasi,” ujarnya.
“Tata ruang di Bali perlu berbeda, kita perlu memastikan destinasi dengan wisata alam yang selalu unggul tidak tersingkir. Jangan sampai sawah, hutan dan sungai dijadikan resort, padahal daya tarik utama Bali adalah wisata alam. “, katanya. ditekankan. Saksikan video “Luhut Soroti Kualitas Pariwisata Bali dan Perilaku Wisatawan Mancanegara” (Fem/Fem)