Jakarta –

Read More : Bandara Terbaik di Dunia 2024 Bukan Lagi Changi, Singapura

Masih terjadi perdebatan mengenai batu di dekat jalan Joji-Sulu. Warga menyebutnya sebagai penanda batas Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8-9), namun para sejarawan menganggapnya sebagai bagian dari alun-alun candi.

“Secara fisik terlihat seperti puncak bangunan candi. Cuma membuat saya bertanya-tanya, kalau ada puncaknya, di mana candi ini?” Sore

Batu ini terletak di kawasan Desa Barangkal, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten. Menurut Hari, saat dikeluarkan dari dalam tanah dan dimasukkan kembali, mereka berteman dengan aparat desa dan polisi setempat.

Bentuknya mirip dengan puncak Candi Gebang dan juga Candi Peserta Shango yang mempunyai tiga bagian. Bagian atas berbentuk silinder, bagian tengah berbentuk persegi panjang, dan bagian bawah berbentuk persegi panjang dengan ukuran berbeda-beda. Harry

Jika batu ini bisa disebut sebagai air terjun lokal, lanjut Harry, tentu sangat aneh. Hal ini dikarenakan pasak palsu hanya mempunyai dua bagian.

Harry menjelaskan: “Pasak palsu itu ada dua bagian, bagian atas berbentuk silinder dan bagian bawah berbentuk kubus atau persegi panjang. Kalau tidak (togo manten), bentuknya seperti candi persegi.”

Hari menyatakan, bentuknya tidak mendukung topologi gambar seperti Peg Falls. Masa ini mirip dengan masa Mataram Kuno abad ke 8-10.

Ditambahkannya, “Periode ini merupakan masa Mataram Kuno abad 8-10. Di Desa Barangkal juga terdapat beberapa yoni dan batu.”

Kepala Pemerintahan Desa Barangkal, Kecamatan Karanganom, Purwanto mengatakan, semasa mudanya sering ada semacam sesaji di tempat ini.

Kepada detikJateng, Minggu (20/9/2024), ia bercerita, “Kita belum tahu sejarah pastinya, mungkin hanya mitos. Tapi waktu muda saya sesajen di sana, tapi sekarang tidak ada.” .

Diberitakan sebelumnya, tugu batu mirip Philus di Desa Barangkal, Kecamatan Karanganom, Klaten selamat dari proyek tol Jogja-Sulu. Konon tugu ini merupakan perbatasan darat Kerajaan Mataram kuno.

Pada Kamis (26/9/2024), warga setempat, Molono, mengatakan, “Ini monumen tua perbatasan Mataram. Dari awal ada sepuluh mariko yang digantung ringan (di sana) lalu diperbaiki oleh pihak desa.”

Menurut Molvino, batu tersebut berdiri di pinggir jalan karena sengaja dihindari. Selain itu, monumen ini telah dicatat oleh para arkeolog.

Lebih lanjut Molono mengatakan tugu peringatan tersebut tidak pernah digunakan untuk hal-hal aneh. Monumen ini dilestarikan oleh penduduk setempat karena dianggap sebagai peninggalan sejarah.

“Iya, demi sejarah, ini peninggalan Praiai Rein (orang zaman dahulu). Panjangnya hanya satu meter, belum pernah dipindahkan,” jelas Mulliono yang turut serta dalam pembersihan batu peringatan tersebut. beberapa tahun yang lalu. .

_________________

Artikel ini dimuat di detikJateng

Saksikan video “Alasan Penambangan Tanah Bahtera di Proyek Tol Jogja-Sulu Disegel Satpol PP” (wkn/wkn)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *