Jakarta —
Read More : Terjangkit Sindrom Langka, Perempuan Ini Tiba-tiba Punya Logat British
Singapura akan mewajibkan karantina selama tiga minggu atau 21 hari untuk kontak dekat dengan pasien cacar atau cacar monyet. Komitmen ini dirumuskan pada masa inkubasi MPEX yang saat ini juga sedang diterapkan di Afrika.
Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran virus mutasi lokal dan meningkatnya kekhawatiran terhadap Mpox clade 1.
“Untuk saat ini jangka waktunya 21 hari karena itu masa inkubasi yang kita tahu, tapi dimulai dari hari terakhir paparan,” kata Menteri Kesehatan Singapura Ong Yeo King dalam konferensi pers, Rabu. 2024).
Pemerintah Singapura juga akan menawarkan vaksin Mpox kepada kelompok yang berisiko tinggi terpapar, seperti petugas kesehatan dan kontak dekat dengan kasus terkonfirmasi.
Bagi petugas layanan kesehatan yang berisiko tinggi terpapar, seperti mereka yang bekerja di Pusat Penyakit Menular Nasional (NCID), vaksin akan memberikan perlindungan tambahan selain protokol pengendalian infeksi dan penggunaan alat pelindung diri.
Sedangkan untuk kontak erat dengan kasus terkonfirmasi MPX, Komite Pakar Imunisasi merekomendasikan pemberian vaksin dosis tunggal setiap 14 hari. Vaksin ini akan diberikan selama mereka berada di karantina.
Di sisi lain, Ong juga mencatat bahwa dari 100 kasus infeksi MPX di Kongo, sekitar tiga hingga empat orang meninggal, yang menurutnya merupakan angka yang sangat tinggi dan mengkhawatirkan. Banyak infeksi dan kematian terjadi pada anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Meskipun angka sebenarnya di negara-negara maju seperti Singapura mungkin lebih rendah, Ong mengatakan negara tersebut harus fokus pada kelompok yang lebih rentan seperti orang lanjut usia dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah serta anak-anak.
“Kita tidak boleh mengambil tindakan drastis dan mengganggu seperti yang kita lakukan selama Covid-19. Saat ini tidak ada negara yang melakukan hal tersebut,” tambahnya. Tonton video “WHO: Monkeypox Mpox Bukan Covid Baru” (suc/kna)