SUARAMERDEKA.COM – Kisah Kartini menginspirasi sekaligus menyedihkan bagi bangsa.

Read More : Soal Toyota Crown RI 25 yang Ditumpangi Menteri Dikti Satryo

Ia berjuang melawan tradisi lama yang menindas perempuan, namun meninggal sebagai korban poligami.

Kartini mengungkapkan kesedihannya atas penderitaan perempuan yang terjebak dalam pernikahan poligami.

Menurutnya, banyak perempuan yang menentang praktik tersebut, namun mereka rentan karena hukum agama Islam membolehkannya.

Baca Juga: Kopi Sedgenak di Kota Lama Semarang, Kafe Batu Tersembunyi Nikmati secangkir kopi dalam suasana ringan dan nyaman.

Buku Elisabeth Keesing, How Big a Cage: Cortini’s Life, Writings and Works (1999), menceritakan rasa frustrasi Cortini terhadap Snook Hurgronje, seorang penasihat pemerintah Hindia Belanda di bidang agama Islam.

Ia juga merujuk pada suratnya tertanggal 23 Agustus 1900 kepada Stella Zehandelaar.

Menurut Parapuan, saat itu Kartini menentang banyak undang-undang seperti selibat, perkawinan anak, dan mempelai pria.

Baca Juga: End-UBS Belum Turun, Harga Naik! Minggu 21 April 2024 ini berita terkini harga emas Pegadian

Karthi menganjurkan bahwa agama adalah cara untuk mengenal Tuhan yang sangat penyayang dan penyayang.

Ia percaya bahwa Tuhan adalah “Bapa segala makhluk” tanpa memandang agama Kristen, Islam, Budha, Yudaisme, dan agama lainnya.

Pandangan Kartini terhadap agama mencerminkan sifatnya yang bermasalah. Ia melihat nilai-nilai baik dalam semua agama.

Baca Juga: 30+ Quotes Hari Kartini 2024 Dalam Semangat Nirwana Penuh, Cocok Sebagai Caption Instagram Atau WhatsApp

Ia percaya bahwa agama harus membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi semua orang, namun tidak menjadi alat penindasan atau pengontrol keinginan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *