Jakarta –

Read More : Mentan Temukan Beras Premium Ternyata Isinya Medium

Aparatur Sipil Negara (ASN) diminta terus melek digital. Sebab, digitalisasi dinilai efektif dan efisien dalam meningkatkan pengelolaan kebijakan dan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) aparatur, termasuk yang menduduki jabatan fungsional analis kebijakan.

Muhammad Taufiq dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) mengatakan analis kebijakan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menguasai teknologi digital, termasuk pola kerja dan pola pikir digital.

“Pelajari bagaimana pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai Functional Policy Analyst (JF AK). Sehingga AI dapat mendorong kinerja kita menjadi lebih efektif dan efisien, sehingga Policy Analyst dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang berkualitas, termasuk untuk “tambah kapasitas dan tingkatkan kapasitas JF AK,” ujarnya dalam keterangan resmi, ditulis Kamis (22/8/2024).

Muhammad Taufiq juga menyampaikan perlunya mengembangkan kolaborasi di semua sektor agar kebijakan publik yang dirumuskan tidak hanya berkualitas tetapi benar-benar berdampak dan mampu menjawab permasalahan yang ada. “Kita tidak boleh membatasi diri pada struktur, karena tujuan struktur adalah untuk memperkuat kinerja organisasi. Jadikan forum ini sebagai peluang untuk membangun kolaborasi. Mulai dari Kabupaten Banggai, hingga konsolidasi nasional JF AK,” jelasnya.

Menurut Muhammad Taufiq, Bupati Banggai Amirudin mengatakan kebutuhan akan digitalisasi tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, ia mempersiapkan dan mendorong para ASN di Kabupaten Banggai untuk menghadapi kebutuhan digitalisasi, salah satunya melalui pengembangan keterampilan. “Kami terus meningkatkan dan mendefinisikan pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan dalam proses digitalisasi birokrasi. Kami memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada ASN Banggai untuk mengembangkan keterampilannya dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membangun kompetensi,” ujarnya.

Pada forum tematik “Promosi Kebijakan Publik Yang Terbaik: Dari Banggai Menuju Indonesia Emas 2045”, Deputi Bidang Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara, Tri Widodo Wahyu Utomo juga menyampaikan pentingnya memenuhi standar persaingan bagi petahana jabatan fungsional. Analis Kebijakan. “JF AK mempunyai peran strategis dalam mewujudkan kebijakan publik yang berkualitas, berdasarkan bukti dan bukan opini, inovatif, inklusif dan yang paling penting adalah bagaimana kebijakan publik tersebut dikomunikasikan dan dibawa ke ruang publik,” ujarnya.

Tidak hanya diskusi hangat mengenai pengelolaan kebijakan publik dan pengelolaan SDM, forum nasional juga menyelenggarakan pernyataan kinerja seluruh posisi Analis Kebijakan yang ada. Pernyataan tersebut berisi komitmen para analis kebijakan untuk mendukung Visi Indonesia Emas 2045 melalui; Memperkuat pengembangan jabatan fungsional analis kebijakan, meningkatkan kualitas kebijakan, membina kolaborasi dan inovasi, serta memperkuat komitmen terhadap etika dan profesionalisme.

Forum Analis Kebijakan Nasional dilaksanakan selama 3 (tiga) hari dan dihadiri oleh perwakilan Jabatan Fungsional Analis Kebijakan, baik dari Pemerintah Pusat maupun dari Pemerintahan Otonom, pada berbagai tingkatan mulai dari Ahli Pertama hingga Analis Kebijakan Utama. Analis kebijakan utama yang hadir antara lain Bima Haria Wibisana (Badan Kepegawaian Negara), Drajat Irawan (Pemerintah Provinsi Jawa Timur) dan Anshar Maita (Kabupaten Banggai). (kilogram)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *