Jakarta –
Read More : Miliarder Jeff Bezos Punya Kebiasaan Pagi Biar Otaknya Tetap Encer, Bisa Ditiru!
Tuberkulosis merupakan infeksi kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang. Hanya sedikit pasien TBC yang berhenti mengonsumsi obat karena banyaknya stigma seputar penyakit ini.
Pasien TBC seringkali menghadapi konsekuensi serius setelah diagnosis TBC. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menghadapi berbagai kendala serta keterasingan dan pengucilan dari keluarga dan masyarakat.
Saya termasuk orang yang sudah lama menjalani pengobatan TBC. Saya bahkan harus meninggalkan sekolah kedokteran karena stigma buruk terhadap penyakit tersebut.
XDR atau TB yang sangat resistan terhadap obat adalah TB MDR yang resisten terhadap fluoroquinolon dan salah satu OAT suntik lini kedua. XDR-TB hampir merupakan tahap terakhir sebelum TDR (Total Drug Resistance) TB. Efek sampingnya lebih kompleks, termasuk bisa menyebabkan gagal jantung dan bakteri berubah lebih baik dari sebelumnya.
Dr Farah tidak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ketenaran sedemikian rupa sehingga rekan-rekannya akan mengetahui lebih banyak tentang pencegahan dan pengobatan TBC. Meski mendapat dukungan dari gurunya yang juga seorang dokter, Farah berada dalam situasi putus asa yang memaksanya mengambil cuti dari sekolah kedokteran.
Beruntungnya, ia memiliki seorang ibu yang selalu mendukung penuh dan memotivasinya untuk berkembang. Ibunya berperan besar dalam kesembuhan Farah dari TBRO-nya.
Dia mengenang: Tidak mudah untuk kembali ke rumah sakit setiap hari.
Namun Farah tidak memungkiri bahwa setiap penderita TBC tidak seberuntung dirinya. Banyak penderita TBC yang mendapat stigma sehingga mereka terpaksa menghentikan pengobatan.
Prof Dr Erlina Burhan, Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Paru dan Pernafasan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), mengatakan stigma yang masih melekat kuat adalah TBC merupakan penyakit terkutuk dan harus dihindari dilakukan
“TB adalah penyakit yang dapat disembuhkan dan dicegah, sehingga tidak boleh dilihat sebagai pemborosan sosial atau contoh perpindahan ekstrim bagi pasien TBC,” kata Dr Erlina saat berbicara kepada Datacom. , Senin (22/7/2024).
Stigma ini muncul karena banyak keluarga yang tidak mengetahui cara merawat pasien TBC. Keluarga harus mengenal penyakit ini, mengetahui pengobatan dan cara mencegah penularannya.
Keluarga kemudian mendorong pasien untuk menerima pengobatan dan perawatan TBC yang tepat dan lengkap. Selama proses pemulihan yang memakan waktu berbulan-bulan, penderita TBC kerap merasa tertekan dan tertekan. Di sinilah peran keluarga dalam mendukung proses pemulihannya menjadi penting.
Dokter ini menjelaskan: Mengobati pasien TBC berarti memakai masker, namun jika pengobatan sudah berlangsung dua bulan, apalagi dahak pasien negatif maka sudah tidak menular lagi, sehingga tidak perlu khawatir. Punya banyak.” Tonton video Erlina “Kenali Gejala TBC pada Dewasa dan Anak” (kna/kna).