Jakarta –

Read More : Viral Hitung-hitungan PPN 12% Kenaikannya Bukan 1% tapi 9%, Benarkah?

Bajaj bisa dikatakan merupakan salah satu mobil umum tertua di Jakarta. Keberadaan becak ini sudah ada di ibu kota sejak masa Gubernur Ali Sadikin.

Namun seiring berjalannya waktu, bajaj yang tadinya hanya untuk mengangkut orang, kini berubah perannya sebagai angkutan ‘semi’. Situasi ini harus diterapkan karena tidak adanya penumpang akibat kemenangan perang melawan undang-undang taksi internet.

Misalnya saat detikcom berada di kawasan pelabuhan Manggarai, Kamis (4/7/2024). Antara jalan utama dan Jl. Manggarai Utara 1, sesekali terlihat kendaraan roda tiga melintas.

Uniknya, salah satu becak yang melintas tak hanya mengangkut orang, namun juga ada alas kasur baru yang masih dibalut plastik di bagian atas mobil. Berkendara singkat ke kota Jakarta.

Saat berbincang dengan salah satu pengemudi Bajaj di kawasan itu, Husen (52), mengatakan, sepeda roda tiga jenis ini biasanya menjadi pilihan pemudik yang membawa banyak barang atau barang berukuran besar. Misalnya becak yang melewati kasur.

Karena beberapa barang sulit untuk diangkut meskipun menggunakan mobil biasa. Namun seringkali mahal atau mahalnya biaya sewa mobil pikap hanya untuk membawa barang-barang tersebut, sehingga Bajaj kerap menjadi pilihannya.

Husen sendiri sudah banyak menerima pesanan untuk mengangkut barang, terutama saat melewati atau dekat pasar ketika ia baru membawa satu atau dua penumpang dari stasiun. Menurut dia, barang yang diimpor paling banyak adalah furnitur.

“Untuk harga segitu biasanya kita deal ke pemiliknya. Soalnya biasanya dikit kalau bawa. Harganya bisa Rp 100 ribu, mungkin Rp 150 ribu, tergantung jarak,” ujarnya. . ucapnya saat berbincang dengan detikcom. .

“Padahal biasanya orang tidak ikut, tapi kalau dikasih alamatnya, pasti datang (barang yang dikirim). Jangan kaya. Dulu saya bawa tikar untuk masjid di Kranji (Bekasi) tapi di sana. Alamatnya. Yang pasti karena saat itu orangnya terpisah-pisah (tidak naik sepeda yang sama) di belakang, jadi kita bingung,” kata Husen lagi.

Di wilayah lain Jakarta, hal senada juga diungkapkan seorang pengemudi Bajaj yang pernah bekerja di kawasan Pasar Senen bernama Mulyono (60). Pasalnya, sebagian besar pengemudi bajaj mengangkut barang, bukan penumpang, termasuk dirinya sendiri.

Ia pun mengaku memiliki beberapa pelanggan dari staf hotel yang sering membeli bahan makanan atau produk segar dari Pasar Senin. Dari para pelanggannya, Mulyono kerap membawa sembako dan bahan makanan lainnya.

“Berkali-kali petugas hotel menelpon kami, meminta kami mengantarkan barang dan sembako dari pasar Senin. Biasanya orang tidak membawa sepeda motor.

Saat ini pemudik hanya membawa satu atau dua tas kecil dari pasar Senin, namun mereka juga membawa pakaian atau produk tekstil lainnya atau makanan dari pasar air Senin.

Menurutnya, ada baiknya pemudik membawa banyak barang untuk naik Bajaj. Sebab barang-barang tersebut tidak cukup hanya dengan mengendarai sepeda motor, namun bisa ditempuh dengan menyewa atau memesan mobil secara online.

Mulyono mengatakan, “Kalau begitu, jumlah yang dibayarkan biasanya sama (seperti bagi pemudik yang tidak punya banyak barang), biasanya tidak dijumlahkan.

Berbeda dengan sopir bajaj yang biasa singgah di kawasan Pasar Tanah Abang, Ahyar (65), yang mengaku beberapa toko di pasar tersebut kerap menggunakan bajaj untuk membawa pakaian dan tas.

Ia sendiri mengaku hanya memiliki satu toko yang menyewakan sepeda setiap dua minggu sekali untuk mengangkut sejumlah tas topi dari Pasar Tanah Abang ke kawasan Ancol.

“Ada yang jual topi seperti itu di toko di Ancol, jadi dua minggu sekali harus bawa tiga atau empat tas dari sini ke Ancol. Kalau tiga tas, biasanya ditaruh di belakang, Rp 90 ribu untuk empat karung, biasanya Rp 100 ribu di atas itu,” kata Ahyar.

Namun sesuai rencana semula, banyak bajaj di kawasan itu yang mengangkut penumpang. Terutama pengunjung dan pemilik toko yang baru pulang kampung, padahal ‘syarat dan ketentuan’ hanya untuk jangka waktu tertentu.

“Tokonya tutup, para pekerjanya selalu naik, tapi hanya di masa muda, jaman dulu mereka memilih jalan lain, lalu jalan lain. Di belakang yang di sebelah saya, semuanya dekat,” katanya. (das/das).

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *