Sukabumi –
Read More : Aniaya Pramugari Demi Alkohol, Pesawat Putar Balik Lalu Turunkan Penumpang
Berdasarkan penelitian yang dilakukan BRIN, harimau jawa dikatakan sudah punah. Emir Sukabumi Marwan Hamami pun turut bersaksi soal harimau tersebut.
Marwan memaparkan hasil kajian keberadaan harimau jawa yang menunjukkan tidak punah. Marwan pernah menerbitkan artikel WWF tentang Geopark pada tahun 2016. Marwan menjelaskan, keberadaan satwa liar tersebut di Sukabumi menunjukkan bahwa banyak spesies di Sukabumi yang rentan.
“Dia masih berdiri di tempat kami, tapi penyelesaian ini baru bisa kami ketahui setelah memasang kamera atau kamera. Saya yakin (bisa dilihat) banyak,” kata Marwan saat perayaan Hari Nasional di Badan Lingkungan Hidup. Kantor (DLH) Kabupaten Sukabumi, Tiongkok (25/4/2024).
Marwan mencontohkan pada 2016 saat Geopark akan diresmikan. Saat itulah muncul penghuni kawasan tersebut, termasuk tanda-tanda Harimau Jawa.
“Geopark akan menyediakan Taman Nasional, 10 ekor sapi jantan dan 3 ekor jantan, totalnya 15 ekor kalau tidak salah, dihentikan karena WWF memasang kamera di hutan Cibabi dan melihat harimau, sejak 2016,” kata Marwan.
“Dan ini oge tapak kaki (tapak juga), antara kaki depan dan belakang 2 meter, kira-kira sebesar apa (seberapa besar) sebenarnya. Jadi bukan berarti sudah tidak ada lagi. , tentu saja karena banyak masyarakat kita yang tidak ditampilkan dengan baik karena tidak mungkin, orang atau hal lainnya,” kata Bupati Marwan.
Marwan juga menceritakan, dulu dirinya dan keluarga berkemah di kawasan Kadudampit. Saat itu, teropong yang dibawanya secara tidak sengaja memperlihatkan wujud harimau.
“Saat saya di Kadudampit, saat saya camping bersama anak-anak, ada tiga ekor harimau hitam yang sedang aclokan-aclokan (melompat), kalau punya kamera malam bisa, tapi saya pakai kamera berburu dan tidak begitu.” T. Sudah terlihat, tapi sayang tidak bisa dituliskan,” ujarnya.
Kembali ke persoalan keberadaan Harimau Jawa yang terbukti permanen, Marwan mengatakan pentingnya edukasi masyarakat. Bagaimana manusia bisa hidup bersama hewan langka tersebut.
“Masyarakat perlu dididik, jangan hanya bermain-main paehan wae (membunuh saja), itu yang meresahkan mereka. Karena dia masih hidup, dia terhubung dengan hal-hal ini. Orang-orang tidak tahu kalau ada harimau. “Kalau hilang, sekarang dianggap hilang, makanya disuruh, tapi itu butuh ilmu, itu tidak mudah,” kata Marwan.
—
Artikel ini muncul di detikJabar. Saksikan video “Delapan Orang Selamat Kecelakaan Air di Sukabumi” (wsw/wsw)