Jakarta –
Read More : Transaksi Judi Online Tembus Rp 427 T, Menkominfo Siapkan Hal Ini
Kota tua menjadi salah satu destinasi wisata di Jakarta yang paling banyak dikunjungi, terutama saat hari libur. Baik tua maupun muda, baik laki-laki maupun perempuan, baik bersama keluarga maupun teman, banyak pengunjung yang datang ke tempat bersejarah ini untuk menghabiskan waktu.
Di kawasan ini banyak terdapat bangunan yang merupakan kantor pemerintahan pada masa penjajahan Belanda saat Jakarta masih bernama Batavia. Meski kini bangunan bersejarah tersebut telah dialihfungsikan menjadi wisata edukasi seperti Museum Fatahillah, Museum Batik, dan Museum Seni Rupa dan Keramik.
Saat berkunjung ke kawasan ini, pengunjung kerap menjumpai seniman yang mengecat tubuhnya dengan warna metalik, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Merupakan patung manusia yang fungsinya meniru tokoh tertentu.
Para aktor ini juga mengenakan kostum atau pakaian unik dengan gaya tertentu untuk mendukung perannya. Ibarat patung sosok, para seniman ini tidak akan berbicara atau bergerak saat wisatawan berfoto bersama.
Salah satu patung di Kota Tua, Eko, mengatakan keberadaan patung di kawasan wisata tersebut sudah ada sejak tahun 2010. Namun saat itu belum banyak seniman yang ingin berperan sebagai patung manusia.
“Kami (Orang Patung Kota Tua) itu komunitas, jadi kami sudah ada sejak 2010. Namun saat itu ramai sekali, belum tertata, dulu hanya ada sedikit orang yang mempunyai patung. Kebanyakan badut, ada robot (manusia), ada pantomim, ada hantu,” kata Eko saat ditemui detikcom, Kamis (6/6/2024) kemarin.
Baru sekitar tujuh tahun lalu Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua melakukan penataan kembali kawasan tersebut. Sehingga saat itu banyak pengamen jalanan yang tidak selaras dengan nuansa kawasan sebagai titik sejarah wisata edukasi, tidak diperbolehkan lagi tampil.
Untungnya, saat ini sudah banyak patung manusia yang menggambarkan sosok-sosok yang sedikit banyak menjadi bagian dari sejarah atau budaya nasional. Misalnya saja pahlawan nasional, prajurit tani zaman kolonial Belanda, bahkan tokoh wayang. Oleh karena itu, komunitas ini masih diakui sebagai bagian dari daya tarik wisata Kota Tua dan terus bermunculan hingga saat ini.
Pada tahun 2017, pimpinan daerah bersama DPRD DKI, bersama Kementerian Pariwisata mulai menata dan menggelorakan Kota Lama hingga akhirnya disepakati saat itu bahwa yang boleh ada di sini adalah komunitas yang memiliki sejarah atau budaya nasional. bernuansa, karena menyatu dengan Kota Tua sebagai destinasi bersejarah,” jelas Eco.
“Jadi dari sedikit yang menjadi patung manusia saat itu, ada yang bernuansa sejarah. Nah, akhirnya mereka yang berasal dari hantu dan badut pun bergabung ke dalam komunitas tersebut. Kemudian masih disebut komunitas manusia batu, tetapi sejak saat itu. mereka yang baru tampil, tapi santai saja. “Mulai ada semacam kurasi dan audisi (agar bisa dijadikan patung manusia) agar sesuai dengan tujuan dibangunnya Kota Tua,” imbuhnya.
Senada dengan Eko, patung manusia lainnya bernama Wahyu juga mengatakan bahwa mereka merupakan bagian dari kawasan wisata Kota Tua. Ia sendiri telah menekuni profesi tersebut sejak tahun 2014.
Dikatakannya, untuk menjadi patung manusia di kawasan Kota Tua harus melalui penyembuhan UPK. Hal ini bertujuan agar karakter atau sosok yang dimaknai oleh patung manusia tersebut selaras dengan keberadaan kawasan tersebut.
“Di sini kita dituntut berdasarkan cerita, jadi tidak bisa menggunakan tokoh lain. Kita harus menjadi karakter yang terhubung dengan cerita. Kami juga terpilih untuk bisa tampil di sini. Di UPK, ada yang bertanya kenapa memilih (menjadi patung) sosok ini: “Begini ceritanya, jadi. Jadi ada pilihannya,” kata Wahew.
Ada pula patung manusia lain bernama Yusuf yang memerankan tokoh Wayang Gatotkaca. Dikatakannya, seni peran ini sudah ada sejak lama di Kota Tua Jakarta. Seperti halnya patung manusia lainnya, ia yang menekuni profesi ini sejak tahun 2013 mengatakan, untuk bisa tampil di bidang tersebut harus dikurasi oleh UCT agar selaras dengan nuansa pendidikan sejarah dan budaya nasional. . (yyyy/tertawa)