Kaledonia Baru –

Read More : Keluarga Tewas di Kecelakaan Helikopter Wisata Itu Orang-orang Penting

Tahukah Anda kalau Kaledonia Baru, negara kepulauan kecil di Samudera Pasifik, memiliki komunitas keturunan Jawa? Bagaimana Anda sampai di sana?

Sejarah kehadiran keturunan Jawa di Kaledonia Baru jelas tidak lepas dari penjajahan Belanda. Informasi ini disarikan dari buku ‘Diplomasi: Karya Diplomat Indonesia di Luar Negeri’ karya A Agus Sriyono, Darmansjah dan Bagas Hapsoro.

Informasi ini juga diambil dari tesis ‘Diaspora Jawa di Kaledonia Baru’ karya Heuningsih dari Universitas Amsterdam (2023).

Asal usul masyarakat Jawa di Kaledonia Baru berasal dari masa kolonial Perancis dan sistem kerja paksa yang diberlakukan di wilayah tersebut.

Kaledonia Baru adalah negara kepulauan di Pasifik Selatan. Pulau-pulau tersebut pertama kali ‘ditemukan’ oleh dunia Barat pada tahun 1774 oleh ekspedisi yang dipimpin oleh Kapten Cook.

Pulau-pulau tersebut menjadi koloni Perancis pada tahun 1853 dan digunakan sebagai koloni hukuman dari tahun 1864-1894. Awalnya, narapidana asal Prancis dikirim untuk bekerja di sana.

Namun, seiring berakhirnya masa hukuman, kebutuhan akan tenaga kerja murah di bidang pertanian dan pertambangan menjadi semakin mendesak.

Saat itu Gubernur Jenderal Perancis di Kaledonia Baru, Paul Faillet, memutuskan untuk beralih dari kerja paksa ke kerja paksa.

Sistem ini beroperasi pada tahun 1896-1949. Perancis mengimpor tenaga kerja dari berbagai belahan Asia untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang tidak dapat dipenuhi oleh penduduk Kanak setempat.

Pasalnya, penduduk asli tersebut dianggap “tidak mau atau tidak mampu” melakukan pekerjaan tersebut. Salah satu kelompok besar yang direkrut adalah orang Jawa dari Hindia Belanda.

Setelah serangkaian negosiasi antara pemerintah kolonial Belanda dan Perancis, kelompok pekerja Jawa pertama tiba di Kaledonia Baru pada tahun 1896. Para pekerja ini didatangkan untuk bekerja di perkebunan kopi dan tambang nikel yang saat itu sedang berkembang pesat.

Masyarakat Jawa dipilih karena dianggap patuh, disiplin, dan tidak banyak menuntut. Hal ini sesuai dengan stereotipe zaman kolonial Belanda.

Pekerja asal Jawa di Kaledonia Baru menghadapi kondisi yang sangat sulit dan kontrol yang ketat di bawah sistem kerja paksa. Mereka sering sendirian di taman. Bahkan, mereka diperbolehkan keluar kantor hanya dengan izin khusus dari atasan untuk membentuk komunitas di Kaledonia Baru.

Seiring berjalannya waktu, banyak pekerja kontrak asal Jawa yang kembali ke India setelah kontraknya berakhir. Namun sebagian besar pekerja asal Jawa memilih menetap di Kaledonia Baru.

Mereka mulai membentuk komunitas yang nantinya menjadi cikal bakal diaspora Jawa di Kaledonia Baru. Namun sejarah tersebut seringkali disembunyikan atau dilupakan oleh keturunan mereka karena stigma negatif yang melekat pada status mereka sebagai keturunan pekerja kontrak.

Diaspora Jawa di Kaledonia Baru kini menjadi bagian penting dari masyarakat lokal. Sayangnya, banyak keturunan Jawa yang tidak mengetahui detail sejarah keluarganya.

Penyebabnya seringkali informasi tersebut disembunyikan dari orang tua atau kakek dan neneknya. Namun, upaya rekonstruksi sejarah yang dilakukan para sejarawan dan peneliti kini mulai membuka kembali halaman masa lalu yang hilang.

——-

Artikel ini muncul di detikJateng. Tonton video “Pemandangan seram di Kaledonia Baru, mobil terbakar” (wsw/wsw)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *