Semarang –
Read More : Biang Kerok Chip TSMC Dipakai oleh Huawei Terungkap
Indonesia dan Malaysia berlomba-lomba membangun pusat data. Batam bisa bersaing di Johor.
Hal tersebut diungkapkan CEO NeutraDC Andreu Tonilus Albert pada konferensi media Telkom Group di Semarang (30/5/2024) serta Chief Investment Officer Mitratel Hendra Purnama dan Telin Budi Satria Dharma Purba.
Andreuw mengatakan pada tahun 2024, NeutraDC akan mengoperasikan data center dengan total kapasitas 60 MW berupa Hyperscale Data Center di Singapura (17 MW) Cikarang (21 MW). Lalu ada data center korporat di Serpong (8MW), Sentul (5MW) dan Surabaya (3MW). Ada juga pusat data Edge (6 MW). Hyperscale baru akan dibuka di Batam pada tahun 2025 dengan kapasitas 18 megawatt, dengan kemungkinan ditingkatkan kapasitasnya menjadi 54 megawatt.
Indonesia telah berkompetisi dari Johor, Malaysia selama 3 tahun terakhir. Pasalnya, Singapura sudah ramai menjadi pusat data di Asia Tenggara. Hal inilah yang merambah ke Batam dan Johor hingga mencari perlindungan.
“Kenapa Johor bisa bangkit begitu cepat? Banyak sekali insentif yang diberikan pemerintah, mulai dari bebas pajak hingga penurunan harga listrik hanya untuk menarik pemain data center,” kata Andrews.
Indonesia harus memperhatikan hal ini untuk memenangkan pasar data center. Banyak penyedia server pindah ke Johor karena lebih murah.
“Itu yang harus kita cari bersama, insentif apa yang ingin kita berikan agar Indonesia bisa menjadi hub,” kata Andrews.
Batam-lah yang berusaha untuk bersaing dengan Johor Bahru karena yang bisa melakukannya adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Di sisi lain, Batam justru lebih menguntungkan dibandingkan Johor Bahru, hal ini perlu dijelaskan kepada pelanggan penyedia server.
Batam termotivasi untuk berjuang di Johor karena KEK-lah yang bisa bersaing, kata Andreu.
Terkait hal tersebut, Direktur Wholesale dan International Services Telkom Bogi Witjaksono mengatakan Johor tahun lalu sangat agresif. Mereka bersedia terhubung ke Singapura dan berani memenuhi tarifnya. Namun Johor memiliki kelemahan dan menjadi peluang bagi Indonesia untuk memenangkan duel data center.
“Ketika para pelaku data center menanyakan keberlanjutan 5 tahun ke depan, tidak ada jawaban. Sehingga akan ada massa yang melakukan perjalanan ke Batam lagi pada pertengahan tahun 2023,” kata Boji.
Koneksi Batam-Singapura juga semakin membaik dengan dibangunnya 4 jalur baru oleh Tallinn. Para pelaku data center merasa tinggal di Batam lebih menarik. AI akan menggerakkan bisnis pusat data
Kembali ke Andrew, ia mengatakan peluang bisnis data center lainnya adalah kecerdasan buatan (AI). Kecerdasan buatan perlu dilatih, dan tempat pelatihannya adalah pusat data. Pelanggan juga memerlukan kapasitas pusat data yang lebih besar untuk melatih AI.
“Kebutuhan daya AI 3-4 kali lipat. Kita juga butuh air untuk pendinginan, yang kita distribusikan ke rak-rak,” ujarnya.
NeutraDC juga sedang mempersiapkan pusat data hyperscale berkapasitas 21 MW yang mendukung AI di Cikarang, yang akan siap pada kuartal ketiga tahun 2024. Satu lagi data center Batam 18 MW, yang keempat sudah siap. Kuartal 2025.
“Dengan AI, pusat data kami perlu memiliki masa depan karena kami membangunnya dalam skala besar pada pertengahan tahun ini. Sehingga kami dapat mengantisipasi permintaan AI,” tutup Andrew. Saksikan video “Marcella ‘NKCTHI’ Tak Khawatir Profesinya Tergantikan Teknologi Kecerdasan Buatan” (fay/afr)