Ciamis –
Read More : Destinasi Baru yang ‘Mature’ di Puncak, Pas buat Libur Isra Miraj-Imlek
Siapa sangka Ciamis punya perusahaan kosmetik yang mampu bertahan dari keterpurukan zaman. Mari kita lihat lebih dekat bedak Saripohatji yang terkenal itu.
Generasi modern tidak bisa beradaptasi dengan bedak Saripohatji. Pakaian tradisional Saripohatji ini populer di kalangan wanita pada tahun 1950an hingga awal tahun 2000an.
Kosmetik yang satu ini disebut-sebut memiliki banyak manfaat untuk kesehatan kulit, khususnya wajah. Banyak yang mengira pabrik serbuk ini sudah tidak berproduksi lagi. Telah ditemukan bahwa bubuk dari bahan-bahan alami masih diproduksi dan dijual meskipun ada serangan kosmetik modern.
Tepung Saripohatji diciptakan pada tahun 1927 oleh Maria, seorang ibu rumah tangga asal Ciamis. Secara tradisional, makanan beku adalah untuk penggunaan pribadi.
Tapi banyak tetangga yang menyukainya. Kemudian Maria dan suaminya memutuskan agar lebih produktif.
Bedak Saripohatji aman digunakan oleh semua usia mulai dari anak-anak hingga orang dewasa karena tidak menggunakan bahan kimia apapun. Saripohatji terbuat dari bahan-bahan alami mulai dari beras, jahe, kunyit, jahe, lengkuas dan daun sagu.
Bedak Saripohatji sudah dikenal sejak dahulu mempunyai manfaat yang baik untuk kulit dengan mencerahkan wajah dan melindunginya dari sinar matahari.
Agus Wahyu (63), generasi ketiga manajer perusahaan tepung Saripohatji, pun menceritakan perjalanan tepung terkenal itu. Menurutnya, setelah neneknya Maria membuat tepung dan banyak diminati, kakeknya Harjo punya ide untuk menjualnya.
“Jadi ini industri rumahan. Produksi hanya terjadi di rumah di lingkungan alami. Banyak orang yang senang dengan hal ini, dan hal ini terus berkembang. Akhirnya pada tahun 1950 dibuka dan diberi izin oleh pihak yang berwenang. Tepung sudah ada sejak tahun 1927,” kata Agus saat ditemui di pabrik tepung Sarypokhatzhi. Asal Usul Nama Sarypokhatzhi
Agus menjelaskan, nama Saripohatji berasal dari nama mitologi Sunda, Devi Pohatji yang berarti Dewi Baik. Pada kemasan bedak berwarna kuning terdapat foto Ibu Maria (pencipta) dan di bagian belakang terdapat keterangan bahan, cara penggunaan, dan khasiatnya.
Sejak masa kejayaannya, pabrik Bubuk Mesiu Saripohatji telah mampu mempekerjakan lebih dari 60 tenaga kerja lokal. Namun, saat ini hanya ada 10 karyawan yang masing-masing menjalankan banyak tugas.
Tim detikJabar mengunjungi pabrik yang terletak di Jalan Ir H Juanda atau dikenal Saripohatji pada Kamis (16/5). Ada 5 orang ibu-ibu tua di pabrik yang mencampurkan bubuk tersebut menjadi butiran-butiran kecil.
Seorang wanita keluar untuk menjemur barang-barang tersebut di bawah sinar matahari agar barang-barang tersebut cepat kering dan siap untuk dikemas. Diperlukan waktu 1-3 hari hingga campuran bedak mengering, tergantung sinar matahari.
“Pekerja penggilingan, percetakan, dan pengemasan hanya 10 orang. Dulu sepuluh,” kata Agus.
Masa kejayaan bubuk Saripohatji terjadi pada tahun 60an dan 90an. Pada awal tahun 2000an, keuntungan bubuk Saripohatji mulai menurun. Hal ini diyakini terjadi ketika bedak atau kosmetik modern mulai bermunculan.
“Dulu periklanan ada di daerah Priangan, seperti Garut, Tasik, Chiamis, Pangandaran, bahkan Bandung. “Kami bisa mengirimkan hingga seribu tas sehari.”
Saat ini pabrik hanya mampu menyuplai 50 dus bubuk Saripohatji, atau 1 dus berisi 50 karung. Harga pabrik serbuk Saripohatji adalah Rp 3000 per karung berisi 30 butir.
“Saat ini kalau mau beli di pasar masih tersedia, tapi tidak semua toko bisa,” jelasnya.
Agus menegaskan, bedak Saripohatji sangat bagus untuk perawatan kulit. Dapat digunakan untuk menyiapkan masker yang dicampur dengan air atau madu. Dengan pemakaian rutin, kulit wajah akan menjadi lebih halus, sehat dan bebas jerawat.
“Bisa juga untuk melindungi wajah dari sinar matahari, kalau yang lanjut usia saja dipakai sebagai masker. Tapi kalau yang muda, banyak yang membuat masker,” ujarnya.
Agus bertekad mempertahankan pabrik tersebut tetap berproduksi. Menurut dia, upaya tersebut masih terus dilakukan karena hingga saat ini masih ada pelanggan dan masyarakat yang menggunakan bubuk Saripohatji.
“Masih eksis karena masih ada yang menggunakannya meski tidak sebanyak dulu. Ini juga melindungi warisan budaya,” katanya.
Pabrik tersebut menghentikan produksinya pada Januari hingga April 2024. Sebab, pemasaran bubuk tersebut tidak berhasil. Jadi segalanya masih meningkat. Pemasaran masih dianggap secara fisik, bukan online.
“Cuma produksi saja, kemarin beberapa bulan tidak ada produksi karena produknya belum keluar. Sekarang sudah rilis, jadi mulai. Pemasarannya masih tradisional. Kalau online mungkin orang beli di sini dan jual lagi,” Agus.
——-
Artikel ini muncul di detikJabar. Tonton video “Pria pemburu memenggal kepala wanita di Chiamis, tubuhnya dijual ke penduduk setempat” (wsw/wsw)