Jakarta –

Read More : Cek! Jadwal Libur dan Cuti Bersama Lebaran 2025

Saat ini dengan teknologi yang canggih, segala hal telah dimudahkan untuk memberikan kemudahan bagi penggunanya. Memasukkan teknologi ke dalam pesawat terbang yang membantu mempermudah pekerjaan pilot.

Bukan berarti seiring kemajuan teknologi, keinginan menjadi pilot profesional bisa dengan mudah terwujud. Harus dibarengi dengan kerja keras dan doa yang tekun. CEO Lion Air Wamildan Tsani Panjaitan mengatakan, jika ingin menjadi pilot, harus membandingkan mimpi dan mengejarnya dengan banyak hal lainnya.

“Pertama, bermimpilah yang besar saja, bagaimana saya anak Papua bisa menjadi pilot (karena) mimpinya dulu. Jadi usahakan tidak ada yang tidak mungkin, dan tentunya jaga kesehatan,” ujarnya saat ditemui detikTravel. di Lion Operation Center, Tangerang, Rabu (4/9/2024).

Kesehatan menjadi salah satu faktor penting dalam menjadi seorang pilot, tak lupa generasi sekarang menurutnya banyak mengonsumsi makanan tidak sehat yang tidak sesuai dengan harapannya menjadi pilot. Kesehatan yang dimaksud adalah keseluruhan, termasuk mata dan gigi.

“Nah, ini hal-hal yang harus dijaga sejak kecil. Maka saya berpesan, mulailah bermimpi sebesar-besarnya, kemudian rencanakan, dan jangan menyerah terhadap rintangan yang menghadang,” kata Tsani.

Ia pun menjelaskan sedikit mengenai ketertarikannya terhadap dunia penerbangan. Dan dia bermimpi menjadi pilot suatu hari nanti.

Hingga ia masuk sekolah, ia terus membidik semua tingkatan hingga mencapai posisinya sekarang.

“Saya di Jayapura sampai SMA, lalu masuk SMA saya di Magelang, jadi saya masuk SMA Taruna Nusantara tahun 95, saya kelas 6. Lalu setelah tamat SMA saya masuk Akademi Angkatan Udara, lulus pada tahun 2001. “Saya bergabung sebagai pilot pada tahun 2003,” kata Tsani.

“Dan saya saat itu berada di Makassar, maka dari Makassar saya menerbangkan pesawat patroli Boeing 737 selama kurang lebih 10 tahun. Kemudian saya bertugas di Yogyakarta untuk mengajar di sekolah pilot dan kemudian saya pensiun dan saya bergabung dengan grup Lion. Saya akhirnya mau ke Batik Air, lalu saya pindah ke Lion Air,” ujarnya.

Perjalanan karir yang ditempuhnya bukannya tanpa keringat, karena kegigihannya ingin menjadi pilot, segala rintangan selalu dihadapi Tsani. Selain itu, saat itu mereka memutuskan untuk memilih jenis pesawat apa saja.

“Masalah ini besar sekali, jujur ​​harus saya akui besar karena saya sudah terbiasa menjadi tentara, jadi saya harus berubah pikiran, hati dan pikiran,” ujarnya. Saksikan video, “Penerbangan di Indonesia Timur Sangat Sulit” (bnl/bnl)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *