Jakarta –
Read More : Ini 10 Rute Pesawat dengan Turbulensi Terparah di Dunia
Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Pancar, Sentul, Bogor terjangkit penyakit akibat banyaknya kejadian kekerasan. Pantauan detikTravel akhir pekan lalu, kawasan ini masih ramai dikunjungi wisatawan.
Salah satu video media sosial yang diposting pada Kamis (26 September 2024) menampilkan video yang memuji Gunung Pancar namun juga berisi keluhan. Ia menulis, sebenarnya kawasan TWA Gunung Pancar sangat indah, sayangnya banyak pembunuhnya.
Dalam keterangan video yang diunggah, tertulis kawasan tersebut sepi dan sepi wisatawan karena banyaknya praktik pemaksaan alias pungutan pajak ilegal. Pemilik akun mengungkapkan kekesalannya karena dikenakan biaya tiket masuk ke seluruh tempat wisata Gunung Pancar.
“Karena pemerasan, tur ini dibatalkan,” tulis saya @*d**i****** di TikTok.
Komentar mengenai unggahan tersebut aman dari warganet yang menyetujui unggahan tersebut. Beberapa warganet mengaku masyarakat sekitar Bogor enggan pergi ke TWA Gunung Pancar karena mahalnya harga.
“Jangan lupa masyarakat luar Bogor, bahkan masyarakat Bogor sudah berhenti datang mengunjungi Gunung Pancar pak direktur,” bunyi pesan tersebut.
DetikTravel mengunjungi Gunung Pancar pada Sabtu (10 Mei). Pada Sabtu pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, kawasan tersebut mulai ramai dikunjungi wisatawan yang hendak berwisata. Saat memasuki Gunung Pancar, pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp7.500 per orang dan Rp10.000 per kendaraan.
Sepanjang perjalanan menuju Gunung Pancar, banyak tempat yang bisa dipilih pengunjung seperti pemandian air panas, jalur pendakian, wisata air, gua, dan deretan kafe. Nah, untuk destinasi wisata luar negeri, detikTravel mematok tarif masuk yang tinggi.
Harga setiap tur berbeda-beda. Untuk masuk ke Sumber Air Panas Gunung Pancar harga tiketnya adalah Rp 20.000 per orang dan Rp 10.000 per kendaraan. Selain itu, untuk bisa menikmati air panas di kolam renang, pengunjung harus membayar sebesar Rp 5.000.
Setelah itu rombongan detikTravel menuju kawasan Gua Agung Garunggang, sekitar 30 menit perjalanan dengan mobil dari pintu masuk TWA Gunung Pancar. Untuk memasuki gua, pengguna mobil harus memarkir sepeda motor atau mobilnya di area yang telah ditentukan dengan biaya sebesar Rp 20.000 untuk mobil dan Rp 10.000 untuk sepeda motor.
Jarak stasiun menuju Gua Garunggang Besar sekitar 45 menit dan jika mendekati gua pengunjung harus membayar biaya tambahan sebesar Rp 20.000.
Setelah membayar parkir, tamu tidak menerima tiket di tempat parkir.
Seorang warga sekitar bernama Oji mengatakan kawasan Gunung Pancar sangat ramai, salah satunya karena masyarakat mengunjungi Tepian Kopi, tak jauh dari stasiun menuju Gua Besar Garunggang.
“Bukan kafe Kopi Tepian yang selalu ramai di kawasan ini, tapi kafe Kopi Tepian yang paling murah (di antara restoran lain), dan juga laris manis. Ada wisatawan yang senang karena makanan dan minumannya, serta tidak ada biaya tambahan untuk menikmati restoran tersebut,” kata Oji.
Bandingkan dengan tempat lain di TWA Gunung Pancar yang kemana-mana harus bayar.
“Untuk (tempat lain) mulai dengan tiket (berbayar), kalau mau mandi dapat tiket (berbayar). Entah itu Air Terjun Leuwi Asih atau yang lainnya dan tidak perlu bayar parkir. biaya masuknya sekitar Rp 50.000,” ujarnya.
Namun Eni, seorang wisata goa asal Bogor, meski harus membayar berkali-kali lipat, tetap tak hilang rasa penasarannya saat berkunjung ke goa tersebut. Eni mengatakan, sebelum sampai di parkiran menuju jalan menuju air terjun, ia memberikan uang sebesar Rp 10.000.
Karena baru pertama kali, Eni pun memberinya uang yang katanya untuk parkir.
“Karena baru pertama kali, saya hanya menaruh uang Rp 10.000 di jalan. Karena saya tidak tahu, saya berikan saja kepada Anda,” ujarnya.
Suasana di dalam goa sangat ramai dikunjungi wisatawan sehingga mereka harus antri dan berganti pakaian untuk masuk ke dalam goa. Di dalam gua, pengunjung dapat berfoto dan menyaksikan kelelawar tidur yang bergelantungan di langit-langit gua. Simak video “Video: Reaksi Sandiaga Terhadap Penyerangan Gunung Pancar” (upd/fem)