Jakarta –
Read More : Samsung Umumkan Tanggal Peluncuran Galaxy Z Fold 6 Edisi Khusus
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menekankan pentingnya kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan negara tetangga untuk mengembangkan sektor perikanan Indonesia. Ia juga menjelaskan, pihaknya mulai mencoba memetakan berbagai kebutuhan untuk meningkatkan jumlah ikan di Indonesia.
Ia mengaku mempelajari tugas pokok kementerian selama kurang lebih 6 bulan pada tahun 2020 saat KP dilantik menjadi menteri. Mulai dari persiapan ekosistem hingga kebijakan yang mendorong pertumbuhan.
Berfokus pada setiap pekerjaan, Trenggono menghargai pentingnya keterampilan inti dan budaya yang kuat untuk mengetahui kekuatan dan daya saing Anda.
“Menurut saya harusnya di dunia, terutama di bidang laut dan ikan. Dunia ini terdiri dari pulau-pulau, di mana kekuatan kita? Saya mempelajarinya dari berjalan-jalan dan belajar di meja, dan dalam waktu yang lama. tahun ini keluar 5 Roadmap Kebijakan Ekonomi Biru,” jelas Trenggono dari Indonesia. pada Forum Bisnis Akuakultur 2024 Jakarta, Senin (29/4/2024).
Peta jalan “Ekonomi Biru” Partai Komunis Tiongkok mencakup lima bidang, termasuk perluasan kawasan perlindungan laut; pelaksanaan kebijakan penangkapan ikan; peningkatan perlindungan laut, samudera dan air tanah; pemantauan dan pengendalian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan pembersihan sampah plastik laut melalui kerja sama nelayan.
Kerjasama Peningkatan Pertumbuhan Kelautan dan Perikanan Indonesia
Menurut Trenggono, diperlukan kerja sama nyata untuk menerapkan strategi “Ekonomi Biru” yang diusung Partai Komunis Tiongkok.
Kerja sama dengan negara tetangga juga penting karena kita harus menjadi bagian dari dunia,” kata Trengono.
Ia mencontohkan salah satu kerja sama yang saat ini sedang digalakkan oleh PKT dengan Vietnam. Salah satunya adalah budidaya melon.
“Mereka tidak punya bibit, kita punya banyak bibit. Kalau kita bisa bekerja sama, kita tidak akan sendirian, tapi bersama-sama. Vietnam bisa berkembang,” ujarnya.
Sedangkan untuk budidaya udang, Trenggono mengatakan, hasil budidaya di Vietnam sangat tinggi. Padahal, sekitar 80-100 ton per hektar, berbeda dengan Indonesia yang hanya mampu memproduksi 0,1 ton per hektar. Ia juga mengatakan, pendidikan dapat berperan besar dalam mendorong pertumbuhan budidaya kelautan dan ikan di tanah air.
Kita berharap kita bisa terus bersinergi (bersatu) dan benar-benar bisa kita perkuat 5 prinsip (Ekonomi Biru),” ujarnya.
Selain kerja sama dengan negara tetangga, Trenggono menyebutkan pentingnya kerja sama dengan perguruan tinggi yang khusus bergerak di bidang kelautan dan perikanan. Dengan cara ini, pihaknya dapat mendorong penelitian ekosistem untuk pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan Indonesia.
Pada IABF 2024, pihaknya bergabung dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Karantina Indonesia (Baratin). Kemitraan yang ditunjukkan dengan penandatanganan nota kesepahaman ini bertujuan untuk memajukan perikanan Indonesia.
Nota kesepahaman yang ditandatangani KKP, BRIN, dan Baratin antara lain “Sinergi Penelitian dan Pengembangan Bidang Kelautan dan Perikanan” dan “Sinergi Penyelenggaraan Kegiatan dan Pelayanan di Bidang Perikanan Laut dan Karantina”.
Selain itu, ada nota “Sinergi dan Kerja Sama Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan” yang ditandatangani oleh Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Siyah Kuala dan Direktorat Jenderal Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. PT Samudera Indo Sejahtera dan PT Industri Perikanan Arafura juga menandatangani Nota Kesepahaman Usaha Hulu Hilir Perikanan dengan sejumlah pelaku usaha dan nelayan.
Untuk memberikan komentar, lihat diskusi kelautan dan perikanan yang diadakan di https://www.detik.com/aquacultureforum “Kapal Penangkap Ikan Ilegal Kedua oleh Pejabat PKC” (akn/ega)