Kepulauan Konawe –
Read More : Ketar-ketir Korsel Umumkan ‘Darurat Medis’, Jumlah Dokter di 53 RS Turun 42 Persen
Meski jauh dari pusat kota, namun memiliki potensi alam yang besar yang dikenal dengan nama Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) atau Pulau Wawonii. Dari segi pertanian misalnya, pabrik jambu biji yang tumbuh subur di pulau ini menjadi anugerah bagi masyarakat setempat.
Salah satu petani Mete asal Desa Wawonii, timur laut Karsum, dahulu kala mengatakan bahwa desanya memang terkenal dengan potensi Mete. Apalagi lahan di desanya cukup subur untuk ditanami jambu biji.
Alasan kami memilih Mete adalah untuk menanam sejenis anyelir, untuk mati. Itu bukan perbandingan, kata Karsum baru-baru ini.
Karsum menjelaskan, mete biasanya dipanen setahun sekali. Dalam sekali panen, ia bisa memanen 300 kilogram kacang mete dari seluruh lahan miliknya yang kini luasnya mencapai satu hektar.
“Panen sekitar 300 kilogram itu untuk memanen semua pohon. Kalau satu pohon beratnya hanya tiga sampai lima kilogram,” ujarnya.
Selain mudah dibudidayakan, Karsum mengungkapkan Mete juga memiliki nilai komersial yang sangat tinggi. Bahkan, dalam sehari, ia berhasil meraup omset sebesar Rp 1 juta dari hasil penjualan kacang mete kering.
“Alhamdulillah, kadang sehari kami pastikan mendapat Rp 1,2 juta.
Dilihat oleh konsumen India
Kacang khas Wawonii tetap menjadi salah satu produk yang dicari konsumen hingga saat ini. Bahkan dahulu kala, mete di Wawonii banyak dilihat oleh konsumen India.
Sekretaris Desa Watuondo Darwis mengatakan banyak warga India yang membeli kacang dari desa mereka pada tahun 2000an.
“(Ada) pembeli India tahun 2000-an. Saya punya bos orang India. Jadi kami (mengumpulkan) pepaya dari seluruh Wawonii,” ujarnya.
Namun, pembelian kacang mete tidak sembarangan. Biji kopi tersebut perlu disortir terlebih dahulu sebelum dijual, jelas Darwisa.
“Biji yang dijual dijemur terlebih dahulu, warnanya merah.
Namun saat ini Kacang Mete produksi Wawonii sudah tidak dijual lagi di India karena banyak masyarakat setempat yang tidak mampu membelinya. Faktanya, harga jual Mete ke konsumen India lebih tinggi dibandingkan ke konsumen lokal.
“Misalnya di Kendari belinya Rp 15.000. Kalau orang India sampai Rp 20.000,” ujarnya.
Darwis menambahkan, proses penjualannya hanya memakan waktu tiga tahun, bahkan bagi Darwis. “Cuma tiga tahun. Lalu (berhenti) karena pengepul Kendari sudah kacau. Mereka melarang orang India masuk ke Kendari karena tidak bisa (kacang),” sambungnya.
Meski demikian, kacang wawonii tetap menarik banyak penggemarnya. Proses penjualan kini semakin mudah berkat tersedianya akses Internet dan dibangunnya Base Receive Station (BTS) yang dibuat oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Mulai saat ini, para petani tidak perlu lagi menunggu kapal datang. Berkat internet, Karsum mengaku bisa berkomunikasi langsung dengan pembeli.
“Dulu, sebelum ada internet, kita kirim hasil jambu biji dengan perahu. Lalu yang punya perahu itu ambil buku ini, sebut saja nota, seharga matahari seluruhnya. Sekarang ada komunikasi, ada internet, dapat berkomunikasi dengan pembeli.
Detikcom bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyelenggarakan program perbatasan untuk mengkaji pembangunan ekonomi, pariwisata, infrastruktur, dan pemerataan akses Internet di wilayah 3T (tertinggal, terpenting, dan terpinggirkan). Ikuti terus berita informatif, inspiratif, unik dan menarik dari Program Perbatasan di Tapalbatas.Detik.com!
Tonton Juga Video: Temui Mas Adi, Pahlawan Sinyal Wawonii
(PRF/EGA)