Jakarta –
Read More : Rasain! Pelaku dan Bandar Judol Akan Di-blacklist OJK
Baru-baru ini Netflix merilis film baru yang futuristik berdasarkan kisah teknologi kecerdasan buatan (AI) berjudul “Atlas”. Film ini menampilkan sisi gelap AI dan juga kemungkinan kerja sama dan harmoni antara manusia dan AI, melalui teknologi yang disebut “neurolink”.
Atlas, karakter fiksi dalam film tersebut, mewakili skeptisisme sebagian besar umat manusia terhadap pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap dunia nyata dan masa depan umat manusia. Padahal teknologi dalam film tersebut memang benar-benar ada di sekitar kita, baik itu AI maupun neurolink, yang nama dan prinsip kerjanya mirip dengan teknologi neurolink yang dikembangkan oleh Elon Musk.
Nama lengkap Elon Revee Musk, seorang pengusaha sekaligus investor ternama di bidang digital kelahiran 1971, baru-baru ini mendapat kritik keras dari salah satu ilmuwan ahli yang dikenal sebagai Godfather kecerdasan buatan, Yann Andree LeCun. .
Menurut Yann, seperti tertulis di akun X/Twitter miliknya, Elon terlalu mengandalkan teori konspirasi dan “berlebihan” ketika membicarakan perkembangan AI. Menurut Yann, pengembangan teknologi AI (seharusnya) didasarkan pada penelitian dan kajian ilmiah, bahkan kritikan tersebut dibalas oleh Elon melalui akun X/Twitter miliknya, menanyakan kontribusi apa yang diberikan para ilmuwan dari Yann terhadap pengembangan AI saat ini. . Lagipula, menurut Elon, Yann “hanya” seorang karyawan sebuah perusahaan besar yang harus siap menerima pesanan.
Yann yang merupakan chief AI scientist di Meta sebenarnya juga seorang profesor matematika ternama dengan banyak makalah ilmiah/teknis yang diterbitkannya, termasuk perkembangan teknologi AI yang banyak digunakan saat ini. Dunia. Teknologi AI harus diterapkan sepenuhnya oleh berbagai pihak, baik positif maupun negatif dalam pengembangan dan penggunaannya.
Bahkan teknologi AI sendiri saat ini, karena berkembang pesat dan hampir mandiri, berasumsi suatu saat akan mampu melampaui kecerdasan dan kendali manusia. Berapa lama kita mempersiapkannya? teknologi AI. Di balik wacana mengenai segala kebaikan yang dibawa oleh teknologi ini, kita semua, bahkan di dunia, berada dalam tekanan risiko dan dampak negatif yang belum dapat diukur dengan jelas. Negosiasi dan diskusi masih berlangsung di negara-negara Global Utara dan Global Selatan. Salah satu poinnya adalah bagaimana mengembangkan AI secara etis, tentunya dengan memahami kondisi dan ekosistem yang berbeda-beda di setiap negara.
Misalnya saja, di dalam negeri sendiri, di tengah banyaknya wacana mengenai pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan etika penggunaannya, Indonesia masih menghadapi kondisi infrastruktur digital/kesenjangan akses, keterampilan literasi digital yang tidak setara di seluruh kawasan, dan kekhawatiran terhadap lapangan kerja. kerugian akibat penggantian teknologi AI. Wilayah perkotaan diyakini memiliki lebih banyak peluang untuk mengikuti perkembangan AI dibandingkan wilayah pedesaan di Indonesia.
Tentu saja, salah satu alasannya adalah karena forum-forum yang tersedia untuk membahas isu-isu AI lebih banyak berada di perkotaan dibandingkan di pedesaan, serta intensifnya penggunaan AI di berbagai layanan kesehatan, keuangan, dan pendidikan di beberapa kota besar, serta kecerdasan buatan. melawan kejahatan dunia maya mampu memberikan gaya belajar dan bekerja baru yang lebih efisien dan produktif dengan hasil yang lebih baik bagi pengguna yang kreatif dan positif. Namun di sisi lain, AI bisa membuat hal seperti ini “mudah” bagi para penjahat. Kembali ke film “Atlas” yang disebutkan di awal artikel ini, ada karakter bernama “Harlan”, sebuah teknologi AI dengan keterampilan dan sikap teroris yang mengancam keselamatan manusia. Mungkin masih terkesan futuristik, namun kejahatan berbasis AI sudah tersebar luas di sekitar kita, misalnya pada pertengahan tahun 2023 WormGPT, sebuah malware berbasis AI, akan mampu secara otomatis menghasilkan dan menyebarkan kode berbahaya. Hal ini tentu saja mengejutkan dunia keamanan siber dan menjadi pengingat bahwa teknologi AI dapat disalahgunakan. Setidaknya berikut beberapa kejahatan yang menggunakan teknologi AI, seperti dilansir Technology Review.1. Tempat memancing
Kejahatan dunia maya yang paling banyak dibantu oleh AI adalah phishing. Penjahat phishing kini menggunakan teknologi AI untuk lebih meningkatkan trik kriminal mereka. Layanan penghasil spam seperti GoMail Pro telah mengintegrasikan ChatGPT ke dalam layanan mereka untuk memudahkan penjahat menafsirkan penipuan mereka dan mengirimkannya ke korban.
2. Penipuan palsu
Teknologi AI kini memungkinkan penjahat dunia maya untuk membuat suara, gambar, dan video yang terlihat sangat mirip dengan aslinya. Tinjauan terhadap kejahatan dunia maya berbasis AI oleh MIT Technology menemukan bahwa banyak platform secara terbuka menjual layanan deepfake dengan harga yang relatif rendah, sekitar 160.000 per gambar.
Di Hong Kong, seorang pejabat keuangan sebuah perusahaan multinasional ditipu untuk membayar US$25 juta (Rp 392,97 miliar) kepada penipu yang menggunakan teknologi deepfake dengan berpura-pura menjadi CFO perusahaan tersebut.
3. Layanan pembobolan penjara
Layanan ini memungkinkan penjahat untuk memanipulasi sistem AI. Misalnya menulis kode untuk membuat ransomware. Beberapa perusahaan AI, seperti OpenAI dan Google, secara rutin memasang sistem keamanan untuk mencegah hal ini.
4. Doxxing dan spionase (tanpa hak)
AI tidak hanya digunakan untuk phishing, namun juga banyak digunakan untuk doxxing, misalnya mengidentifikasi informasi pribadi seseorang secara online. Pasalnya, sistem AI dilatih untuk mengambil data dari Internet dengan cepat, termasuk informasi pribadi. Beberapa peneliti menemukan bahwa beberapa teknologi AI mampu menganalisis informasi sensitif seperti etnis, lokasi, dan pekerjaan seseorang.
5. Hoax/misinformasi
Kecerdasan buatan dapat digunakan untuk membuat konten propaganda dan disinformasi yang sangat realistis dan persuasif. Konten ini kemudian dapat dibagikan di jejaring sosial dan platform online lainnya dengan tujuan memanipulasi opini publik, menyebarkan kebencian, atau mengganggu proses demokrasi.
6. Perilaku melecehkan
AI dapat digunakan untuk melecehkan individu secara online. Kecerdasan buatan dapat digunakan untuk menganalisis media sosial dan aktivitas online lainnya untuk mengumpulkan informasi tentang korban dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengirimkan pesan yang melecehkan atau mengancam. Kecerdasan buatan juga digunakan untuk memanipulasi foto dan video korban. Kecerdasan Buatan dan Kebaikan Manusia Tidak hanya menjadi sumber ketakutan, namun juga dikembangkan untuk kepentingan umat manusia. Dalam film “Atlas” diceritakan bahwa teknologi AI pada akhirnya digunakan untuk kepentingan umat manusia. Selain AI yang ada di film Atlas, saat ini sedang terjadi perkembangan teknologi berbasis AI di bidang pertanian, perikanan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan berbasis AI. Misalnya saja pengembangan AI deteksi payudara kanker bekerja sama dengan Google Health dengan beberapa pasien di Inggris. Di Indonesia, BRIN juga mengembangkan teknologi inovatif berbasis AI, antara lain: SADEWA untuk prakiraan cuaca, SEMAR untuk cuaca ekstrem perikanan dan kelautan, SRIKANDI untuk kualitas udara bidang kesehatan dan lingkungan, SANTANU untuk pemantauan curah hujan, JATAYU untuk cuaca penerbangan. . , SRIRAMA untuk perubahan iklim, KAMAJAYA untuk awal musim yang berkaitan dengan pertanian, INDRA untuk sumber daya air dan GATOTKACA untuk pemantauan kelembaban atau uap air di seluruh wilayah Indonesia.
Nah, kembali ke penggalan perdebatan Elon dan Yann di atas, bisa dikatakan bahwa teknologi AI bukanlah sesuatu yang bisa atau harus dilihat dari satu sudut pandang saja. Berbagai pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, sektor swasta, dan komunitas teknis, diperlukan untuk memastikan bahwa pengembangan dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dapat dilakukan secara etis, aman, dan bertanggung jawab.
Setiap pemangku kepentingan akan memiliki sudut pandang yang berbeda dan mungkin berbeda dalam membahas pro dan kontra. aspek negatif dari teknologi AI. Namun, jika kita yakin bahwa perbedaan dalam negosiasi adalah sebuah berkah, AI pasti mampu membawa manfaat penuh.*) Artikel tersebut ditulis oleh Ida Ayu Prasasti, ICT Watch. Penulis dapat dihubungi melalui email sasti [at] ictwatch.id. ICT Watch berkomitmen untuk berpartisipasi secara aktif dan bermakna dalam dialog mengenai tata kelola kecerdasan buatan (AI). Tonton video “Rise 2024 Google Siap Hadirkan 9.000 Mahasiswa Baru Berkemampuan AI” (fyk/fyk)