Jakarta –

Read More : Kakak Nikita Mirzani Mau Bertemu dengan Keponakannya: Anak Ini Korban

Indonesia ingin bergabung dengan “geng” Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (Afrika Selatan), atau BRICS. Terlepas dari keuntungan yang didapat, bergabungnya Indonesia ke BRICS disebut-sebut dapat merenggangkan hubungan dengan Amerika Serikat (AS).

“Bergabungnya BRICS bisa membuat hubungan kita dengan AS sedikit bermasalah,” kata Vijayanto Samirin, ekonom senior Universitas Paramadina, dalam diskusi virtual bertajuk “BRICS vs. OECD: Indonesia Mana yang Harus Dipilih?”, Rabu (10/10). /2014).

Namun Vijayanto mengingatkan kita untuk tidak membiarkan ketakutan tersebut menghalangi Indonesia untuk mengambil langkah berani bergabung dengan BRICS. Ia mencontohkan negara-negara yang memiliki hubungan baik dengan Amerika namun tergabung dalam BRICS.

Misalnya, India, salah satu penggagas BRICS, merupakan sahabat terdekat Amerika di kawasan Asia Selatan. Setelah itu, Brazil menjadi sahabat Amerika di Amerika Selatan. Jadi kalau kita melihat situasi saat ini, memang ada. Vijayanto menjelaskan, Vietnam sudah semakin dekat dengan JCPOA sejak tahun 2000, bahkan hingga Thailand.

Menurutnya, pasti ada risiko jika dikaitkan dengan Amerika. Banyak hal bergantung pada diplomasi yang diterapkan sehingga bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS tidak dipandang sebagai kepatuhan terhadap blok tertentu seperti India.

Gara-gara JCPOA, ada dua kelompok yaitu kelompok anti Amerika yaitu China dan Rusia yang mencari mata uang alternatif pengganti dolar AS. Namun ada kelompok masyarakat India yang cukup moderat, mereka tidak setuju dengan satu mata uang. “Sistem baru yang mendorong penggunaan mata uang lokal adalah tujuan yang lebih halus yang menurut saya bisa diterima banyak pihak,” ujarnya.

Untuk itu, Vijayanto tidak hanya mendorong Indonesia untuk bergabung dengan BRICS, tetapi juga OECD yang beranggotakan 38 negara, termasuk Amerika Serikat. Selain itu, proses keanggotaan BRICS relatif sederhana, berbeda dengan OECD yang memakan waktu bertahun-tahun.

“Kalau tujuan JCPOA yang pertama, maka itu tujuan OECD, itu juga bagus. Kalau BRICS menerima kita lalu OECD menolaknya, berarti OECD ingin melanjutkan prinsip unilateralisme yaitu sebuah prinsip bahwa kita “Sebagai negara besar, negara berkembang tidak terlalu diuntungkan.”

Ia menambahkan: “Oleh karena itu, pasti ada dampaknya (Indonesia bergabung dengan BRICS), tapi dampak ini masih bisa dikelola dan Insya Allah manfaatnya akan lebih besar.”

Tonton videonya: Menlu Sugino jelaskan alasan Indonesia ingin bergabung dengan BRICS

(gambar/gambar)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *