Jakarta –

Read More : Sri Mulyani Berseragam Loreng & Foto Depan Patung Jenderal Soedirman

Menteri Keuangan Sri Mulyani menghadiri rapat kerja dengan Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI kemarin (6 November). Dalam kesempatan itu, beberapa anggota DPD menyinggung topik yang sedang hangat di masyarakat, mulai dari banyaknya masyarakat terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga program tabungan perumahan rakyat (Tapera).

Lantas bagaimana reaksi bendahara negara tersebut? Jawaban Sri Mulyani soal pemecatan banyak orang

Anggota Komite IV DPD RI Casytha Kathmandu menginformasikan kepada Sri Mulyani mengenai banyaknya pabrik tekstil yang tutup di Provinsi Jawa Tengah. Penutupan tersebut imbas dari membanjirnya produk TPT impor di pasar dalam negeri.

Casytha menilai Keputusan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 8/2024 yang mengacu pada perubahan ketiga Permendag no. 36/2023 tentang kebijakan dan peraturan impor menyebabkan terpuruknya industri TPT dalam negeri. Pasalnya, persyaratan impor barang tertentu dilonggarkan dalam aturan tersebut. Misalnya saja untuk alas kaki, pakaian, dan aksesoris pakaian, tidak diperlukan pertimbangan teknis (Pertek) untuk persyaratan izin impor.

Faktanya, ada Peraturan Menteri Perdagangan 8/2024 yang keluar pada 17 Mei 2024 untuk merelaksasi aturan tersebut. Di sini, pemberian izin impor merupakan langkah yang dikurangi, sehingga saat ini khususnya untuk impor tekstil, impor tekstil luar biasa,” kata Casytha dalam rapat kerja, di kawasan gedung DPR RI, Selasa (5 Oktober 2024).

Dia mengatakan beberapa pabrik tekstil di Jawa Tengah tutup. Akibatnya, sebanyak 1.500 orang terkena PHK di Karanganyar dan 8.000 orang di Semarang. Dengan banyaknya masyarakat yang terkena PHK, lanjutnya, otomatis akan meningkatkan angka pengangguran di Jawa Tengah. Dampaknya, angka kemiskinan pun mau tidak mau akan meningkat. Hal ini tentu tidak sejalan dengan visi dan misi Indonesia Emas pada tahun 2045.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan aturan tersebut telah mengalami beberapa kali revisi. Ia menyatakan akan terus berkomunikasi dengan kementerian terkait mengenai efektivitas revisi Peraturan Menteri Perdagangan 8/2024, khususnya di sektor industri TPT.

“Kalau kita ingin membebaskan impor bahan baku agar bisa diekspor, untuk menyeimbangkan bahan baku, tapi kemarin banjir membuat Pasar Tanah Abang kosong, makanya kita perketat masuknya barang. untuk berkomunikasi dengan Kementerian Tekstil dan Baja,” jelasnya.

Ia menambahkan, dirinya akan fokus pada dua hal tersebut. Dunia usaha sering melakukan praktik dumping atau menjual barang impor dengan harga lebih murah sehingga dapat mematikan pasar dalam negeri. Kerucut

Casytha juga menyinggung program Taper. Ia berpendapat bahwa kontribusi ini menambah beban baik bagi pekerja maupun pengusaha. Pasalnya, peraturan tersebut mengamanatkan pemotongan gaji pegawai swasta dan negara sebesar 2,5 persen, dan dibebankan kepada perusahaan sebesar 0,5 persen.

Menanggapi hal tersebut, Sri Mulyani menjelaskan, sejak tahun 2015, anggaran program perumahan telah dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menyebutkan, total anggaran yang dibayarkan sebesar Rp 228,9 triliun pada tahun 2015 hingga 2024.

“APBN hadir untuk perumahan rakyat, khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), itu yang ingin kita capai. APBN akan kita gunakan. Jadi total kehadiran APBN untuk membantu sektor perumahan khususnya MBR dari tahun 2015 hingga 2024 adalah 228,9 Rp triliun,” ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan, anggaran perumahan rakyat dialokasikan untuk beberapa layanan seperti subsidi uang muka rumah, subsidi suku bunga, dan Fasilitas Pembiayaan Likuiditas Perumahan (FLPP). Langkah ini diambil agar perbankan bisa memberikan angsuran pinjaman yang menguntungkan kepada MBR.

“Jadi sejak 2015, kami memasukkan Rp13,3 triliun dari pembangunan perumahan ke dana bergulir FLPP Rp5,1 triliun, subsidi uang muka Rp220 miliar, subsidi suku bunga ditambah dana bergulir sendiri untuk menciptakan likuiditas,” jelasnya.

Dikatakannya, pada tahun 2016 alokasi anggaran program tersebut sebesar Rp15,52 triliun, tahun 2017 sebesar Rp18 triliun, dan tahun 2019 sebesar Rp18,81 triliun. Pada tahun 2020, anggarannya meningkat menjadi Rp 24,19 triliun.

Kemudian meningkat lagi menjadi Rp 28,95 triliun pada tahun 2021. Naik sebesar Rp34,15 triliun pada tahun 2022 dan Rp31,88 triliun pada tahun 2023. Tahun 2024 menjadi Rp 28,85 triliun.

Dia menegaskan, pihaknya memahami beban masyarakat. Ia berkomitmen untuk terus mengurangi penderitaan manusia dengan berbagai cara melalui APBN.

“Jadi saya tekankan, kita memahami beban masyarakat dan dengan menggunakan APBN kita juga ingin mengurangi beban masyarakat dengan cara yang berbeda. Kalau dulu perumahan dimasukkan lebih dari 228T dan sekarang dana FLPP lebih dari 105 triliun ternyata menjadi menjadi Rp 167T per MBR,” jelasnya 3. Pemberitahuan tentang APBN 2025

Sri Mulyani pun bereaksi terhadap kemungkinan pemerintahan Presiden terpilih Prabowo Subianto mengubah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang saat ini sedang disusun di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Anggota DPD RI Tamsil Linrung awalnya mempertanyakan keamanan APBN Perubahan (APBNP) di era kepemimpinan Prabowo. Sebab, ia khawatir perubahan APBN hanya untuk memenuhi janji politik Prabowo seperti program makan siang gratis dan kelanjutan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN). Menurut dia, belum diketahui besaran dana yang dibutuhkan untuk program-program tersebut sehingga berpotensi menjadi program stagnan.

Menanggapi hal tersebut, Sri Mulyani menjelaskan, mekanisme APBNP sebenarnya diatur dalam UU No. 17 Tahun 2007 dimana pemerintahan baru mempunyai kewenangan untuk melakukan perubahan atau tidak. Pihaknya juga terus berkomunikasi dengan tim Prabowo selama penyusunan APBN 2025. Dengan demikian, persiapan tersebut sejalan dengan program yang diusung presiden terpilih.

Namun dalam menjalankan tugas hari ini dalam penyusunan APBN 2025, kami juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan tim yang diperkenalkan Pak Prabowo untuk mencoba memahami dan merancangnya sesuai janji dan berbagai program yang telah disampaikan, katanya. dikatakan. kata Sri Mulyani. .

Bendahara Negara menjelaskan APBN harus tetap sehat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. APBN dengan demikian tetap menjadi sumber alat untuk menjawab permasalahan pembangunan dalam negeri.

Ia juga menegaskan, APBN tidak bisa dipertahankan secara spontan dalam jangka pendek. Untuk itu, pihaknya terus mencari jalan tengah untuk menjaga keseimbangan berbagai program ke depan.

“Tetapi di sisi lain, jangan beradaptasi dengan banyaknya permasalahan lalu memaksa APBN melakukan hal-hal diluar kemampuannya, sehingga APBN ambruk dengan sendirinya. Hal ini terjadi di banyak negara yang krisis ekonominya dimulai dari ABN yang tidak berkelanjutan, “tambahnya. adalah.

Ia pun mencontohkan negara yang gagal mempertahankan APBN-nya, yakni Argentina. Pada abad ke-19, lanjut Sri Mulyani, kondisi perekonomian negara sangat maju sehingga menjadikannya negara kaya. Namun, karena APBN tidak dikelola dengan baik, negara ini terjebak dalam jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Tonton juga video “Panas dan Dingin tentang Taper”:

(das/das)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *