Jakarta –

Read More : Apoteker Pemilik Pabrik Kosmetik Ilegal di Ciputat Terancam 12 Tahun Penjara

Bukan hanya saat kurang tidur, namun saat terlalu banyak tidur, tubuh sering kali terasa lemas dan tidak berenergi. Tentu saja, apalagi di musim liburan kali ini, ada saja orang yang memanfaatkan waktu luangnya untuk tidur seharian.

Dokter dari RS Mayapada Jakarta Selatan, dr. Ray Rattu, SpPD mengatakan, normalnya seseorang harus tidur 6-8 jam sehari. Fungsi utamanya adalah memungkinkan tubuh pulih dan mengembalikan berbagai fungsi normal setelah beraktivitas seharian.

“Tapi tidur bukan hanya soal kuantitas, tapi juga kualitas,” tegas dr Ray dalam wawancaranya dengan detikcom baru-baru ini.

Tanda-tanda kualitas tidur yang buruk antara lain dapat dilihat pada kondisi seseorang setelah bangun tidur. Jika Anda merasa lebih segar dan berenergi setelah bangun tidur, maka bisa dikatakan kualitas tidur Anda cukup baik.

“Jika Anda merasa lebih mengantuk atau lebih lelah setelah tidur, mungkin kuantitasnya bagus, tapi kualitasnya tidak,” jelas Dr. Sinar.

Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa mendengkur adalah tanda tidur nyenyak. Pada orang dewasa, mendengkur sebenarnya menandakan aliran udara tidak lancar sehingga kualitas tidur pun tidak maksimal.

Gangguan tidur parasomnia juga menyebabkan kualitas tidur yang buruk. Dalam keadaan ini, seseorang tampak tertidur, namun aktivitas otaknya sebenarnya tidak istirahat sehingga memengaruhi metabolisme tubuh.

“Ada tes yang bisa kita lakukan, namanya tes tidur. Untuk melihat apakah orang tersebut tidurnya cukup, kualitasnya bagus. Mungkin dia tidur, tapi setengah tertidur,” jelas dr. Sinar.

Lihat “Pakar: Tidak Ada Zat yang Dapat Menggantikan Efek Pemulihan Tidur” (atas/atas)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *