Jakarta-

Read More : RI Jadi Anggota Penuh BRICS, Erick Thohir Bilang Begini

Perusahaan makanan cepat saji global di Amerika Serikat didorong untuk melakukan promosi besar-besaran untuk menarik pelanggan yang terdampak inflasi dan memilih makan di rumah. Sebab dampaknya terlihat dari menurunnya angka penjualan beberapa perusahaan makanan cepat saji seperti McDonald’s dan Starbucks.

Harga menu makanan cepat saji global telah meningkat selama setahun terakhir. Hal ini karena beberapa perusahaan berupaya memitigasi kenaikan biaya bahan baku dan rantai pasokan. Namun hal ini rupanya telah mengurangi permintaan masyarakat Amerika dan menyebabkan masyarakat mengonsumsi makanan di rumah.

Pasalnya, indeks kepercayaan konsumen AS terpantau turun selama tiga bulan berturut-turut. Menurut survei yang dilakukan kelompok riset The Conference Board, mayoritas warga Amerika cenderung ingin menabung. Dalam enam bulan ke depan, 44,8% responden mengatakan mereka berniat mengurangi pembelian makanan di luar rumah untuk menghemat uang.

“Kurangnya penawaran nilai telah membuka konsumen untuk mencari berbagai pilihan, baik dari waralaba lain maupun dari pedagang grosir,” kata manajer portofolio Carnegi Investment Counsel Razmig Poundardjian, dilansir Reuters, Kamis (05/02/2024).

Lemahnya permintaan konsumen, terutama dari keluarga berpenghasilan rendah, juga berdampak pada industri makanan kemasan. Pertumbuhan penjualan kue dan makanan ringan melambat.

“Berlanjutnya penurunan harga cracker AS didorong oleh merek-merek yang memiliki penetrasi tinggi di kalangan keluarga berpenghasilan rendah, seperti merek Chips Ahoy,” kata Chief Financial Officer Mondelez Luca Zaramella.

Sementara itu, pada Rabu (5/1), CEO Kraft Heinz Carlos Abrams-Rivera menegaskan permintaan masyarakat terhadap makanan di restoran semakin menurun, terutama dari keluarga berpenghasilan rendah.

Selain lemahnya permintaan dari rumah tangga Amerika, industri makanan cepat saji global juga terkena dampak perlambatan perekonomian Tiongkok. Starbucks memperkirakan penjualan globalnya hanya akan meningkat satu digit. CEO Starbucks Laxman Narasimhan mengatakan pelanggan kini cenderung makan di rumah.

McDonald’s, yang sering dikunjungi oleh masyarakat berpenghasilan rendah, bahkan melaporkan penurunan penjualan global selama empat kuartal berturut-turut. Perusahaan terpaksa meningkatkan upayanya dalam penawaran produk.

“Saya pikir penting untuk menyadari bahwa semua kelompok pendapatan mencari nilai,” kata CEO McDonald’s Chris Kempczinski, Selasa (30/4/2024).

Beberapa perusahaan yang meningkatkan promosi juga merasakan dampak positifnya. Dua di antaranya adalah perusahaan induk Domino’s Pizza dan Burger King, Restaurant Brand.

Sepanjang tahun ini, saham Domino’s Pizza naik 27%, sedangkan Restaurant Brand turun 6%. Adapun nilai saham McDonald’s turun 8%. Sedangkan nilai saham Starbucks turun 22%.

Lihat juga Video: Respons Starbucks terhadap Konflik Gaza

(jam/jam)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *