Magelong-
Read More : Tanggal Rilis iQOO 13 di Indonesia, Usung Snapdragon 8 Elite
Kaliangkrik, kawasan Blumbangroto di Magelong kembali viral. Banyak turis datang ke sana karena pemandangannya indah, tapi para petani kesal!
Kepala Desa Adipuro Valueo mengatakan, para petani di kawasan itu sering mengeluh sulitnya menurunkan barang sambil membawa barang karena pengunjung melewati jalan yang sempit.
“Desanya tidak merekomendasikan untuk wisata. Tapi banyak yang datang ke sana sehingga banyak mengambil foto. Kami tidak menyangka kalau Gua Blombang bisa viral seperti ini. Pemandangannya indah. Tapi, tidak ada tempatnya. untuk parkir. Tidak ada photo booth,” kata Valueo di kantornya, Senin (29 Juli 2024).
Valuyo mengatakan, jalan di kawasan itu awalnya beraspal, namun tujuannya untuk dijadikan jalan pertanian bagi aktivitas pertanian masyarakat setempat.
Beberapa warga juga khawatir tanahnya akan dibeli investor jika kawasan Bloombangroto dijadikan objek wisata.
(Apakah investor khawatir dengan tanah yang mereka beli?) Ya, itu juga menjadi kekhawatiran. Karena masyarakat di sini punya tanah yang lebih sedikit, jadi kalau nanti dijual, kata itu mesakke anak putune (kerugian anak cucu). Properti selamanya,” kata Valueo.
Menurut Value, kawasan Blombangroto sempat ramai dikunjungi wisatawan sejak setahun lalu. Terkait penutupan kawasan untuk pariwisata, dia mengatakan kasus tersebut sudah dilaporkan ke Kominfo. Selain itu juga dipasang papan pengumuman.
“Di sana ada plang yang bertuliskan ‘Bukan agrobisnis, tapi jalan wisata’. Di atas belum ada apa-apa, belum siap, mobil tidak bisa naik, tidak bisa berbelok. Jalan itu hanya untuk sepeda motor, ” kata Valueo.
“(Petani) mengeluh kalau turun membawa beban, tidak nyaman. Jalan yang dilalui tidak cukup, karena juga membawa rumput (beban hasil panen) yang terlalu panjang. Tapi sulit. .kamu mau menghindarinya, tidak bisa,’ lanjutnya.
Camat Kaliangkrik, Joko Susilo menambahkan, Blambangroto merupakan salah satu tempat indah di Dusun Prampelan, Desa Adipuro.
“Wilayah lereng Sumbing di Kecamatan Kaliangcrik banyak yang memiliki banyak spot pemandangan indah, salah satunya Blumbangroto,” kata Joko.
Joko membenarkan Blumbangroto belum resmi dijadikan objek wisata.
“Ada rencana untuk mengembangkan desa tersebut menjadi desa wisata. Namun, saat ini sudah diselaraskan dengan budaya desa Adipuro. Karena desa Adipuro merupakan budaya religi. Tidak mempengaruhi budaya desa,” jelasnya.
Dikatakan Joko, pengembangan atraksi wisata setidaknya memerlukan tiga hal, yakni aksesibilitas, fasilitas, dan atraksi.
“Dari segi aksesibilitas, kawasan atau areal yang dijadikan lokasi hanya jalan pertanian. Jadi pengunjung juga bekerja dan memarkir kendaraannya di sana. Jadi masyarakat perlu mengangkut hasil pertanian dan melakukan aktivitas pertanian. Ada gangguan tertentu,” Kata Joko.
“Sebenarnya bahasanya tidak tertutup, karena sampai saat ini belum terbuka, jadi wajar saja. Masyarakat hanya berharap potensi yang ada ini dicoba dikembangkan oleh masyarakat yang menyiapkan sarana dan prasarana nantinya. Jadi Blumbangroto juga bisa menjadi salah satunya. tempat wisata di kabupaten Kaliangcrik kedepannya,” tambah Joko. Para petani tidak menyetujui Bloombangroto menjadi wisatawan.
Sementara itu, salah satu petani di Dusun Prampelan, Desa Adipuro, Muhafi (45) mengaku tidak setuju Bloombangrot dijadikan tempat wisata.
“Itu bukan tempat wisata, hanya jalan-jalan pertanian. Kalau ke sana (Nepal Wan Java), tidak setuju (dijadikan tempat wisata) karena meresahkan petani,” kata Muhafi.
“Kalau ke sini (pemuda) parkir di pinggir jalan, mereka tidak mau bergerak, mereka juga menginjak-injak lahan pertanian dan membuang sampah sembarangan, warga tidak terima,” ujarnya.
———-
Artikel ini muncul di detikJateng. Saksikan video “Respon Sandia Terhadap Penutupan Wisata Blumbangroto di Magelong” (wsw/wsw)