Jakarta –

Read More : Sritex Masih Bisa Ekspor Impor, Produksi Bisa Jalan

Perum Bulog kembali menghadapi permasalahan seperti kenaikan harga beras impor dan stagnasi atau devaluasi beras di Tanjong Priok. Menanggapi laporan tersebut, Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthy menjelaskan demurrage merupakan risiko impor yang tidak dapat dihindari.

“Dalam beberapa kasus, karena risiko penanganan barang impor, penghentian atau keterlambatan bongkar muat tidak dapat dihindari. Misalnya, jika dijadwalkan 5 hari, ternyata 7 hari. Hal ini mungkin disebabkan oleh. Hujan, pelabuhan penuh, pekerja karena libur. Kegiatan Ekspor-Impor atau itu sebagian biaya yang harus diperhitungkan eksportir, kata Bayu, Kamis (4/7/2024).

Hal itu diungkapkannya saat rapat dengan Komisi IV DPRK bulan lalu.

Senada, Anggota DPR Partai Kolkar Budhi Chetiyavan mengatakan demonetisasi biasa terjadi dalam transaksi ekspor-impor.

“Belakangan ini pemberitaan demurrage yang santer diberitakan di media membuat kami di Komisi IV bingung karena demurrage merupakan biaya normal yang dikeluarkan dalam operasional ekspor-impor,” ujarnya.

Saat ini Perum Bulog masih menghitung total biaya deposit yang harus dibayarkan, termasuk negosiasi dengan Belindo, perlindungan asuransi, dan pihak pelayaran. Menurut Bayu, jumlah yang harus dibayarkan tidak lebih dari 3% dibandingkan nilai produk impor.

Dalam kasus terpisah, pakar pangan Indonesia Tito Baranolo mengatakan demurrage berkaitan dengan pengiriman, terutama jika proses bongkar muat kontainer berlangsung cepat.

“Memang pembahasan utang tidak lengkap kalau tidak membahas ongkos kirim. Pengiriman itu bonus karena bongkarnya cepat, dan tentunya keduanya punya pengalaman sebagai operator pengelola yang mendapat amanah impor beras di Bulog Besar. pada masyarakat Perum Bulog,” ujarnya. menjelaskan.

Selain itu, Direktur Rantai Pasokan dan Pelayanan Publik Perum Bulog Mohammad Suyamto juga menyoroti persoalan kenaikan harga yang dilaporkan pihak terkait terkait penawaran yang dilakukan perusahaan asal Vietnam, Tan Long Group. Ia menyayangkan tuduhan tak berdasar tersebut.

Diketahui, perusahaan tersebut terdaftar sebagai salah satu mitra Perum BULOG di bidang jasa impor, namun belum mengajukan penawaran ke Bulog.

“Vietnam Dan Long Company yang seharusnya memasok beras tersebut, belum mengajukan penawaran harga sejak lelang 2024 dimulai. Oleh karena itu, tidak ada kontrak impor dengan kami pada tahun ini,” ujarnya.

Di sisi lain, pengacara sekaligus politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Shanti Devi Mulyaharjani menekankan pentingnya penerapan asas praduga tak bersalah dalam kasus tersebut.

“Harusnya kita mengedepankan asas praduga tak bersalah. Apalagi isu ini sempat diangkat beberapa waktu lalu oleh DPRK, khususnya Komisi IV, penyidikan antara Babanas dan Peram Bulak,” jelasnya.

Direktur Transformasi Antar Lembaga Perum Bulog Sonja Mamoriska mengatakan Perum BULOG telah diperintahkan Kementerian Perdagangan untuk mengimpor beras sebanyak 3,6 juta ton pada tahun 2024.

Pada Januari-Mei 2024, volume impor mencapai 2,2 juta ton. Impor dilakukan secara berkala oleh Perum BULOG dengan tetap memperhatikan neraca beras nasional dan mengutamakan penyerapan beras dan gabah dalam negeri.

“Kami berkomitmen untuk menjadi pemimpin terpercaya dalam rantai pasok pangan sehingga dapat berkontribusi lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, dan hal ini tentunya sejalan dengan 4 visi transformasi kami,” tutupnya.

Saksikan juga video “Jokowi Tunjuk Luhut Pimpin Bullock Beli Perusahaan Beras Kamboja”:

(dia)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *